#Part01
Matahari
sudah mulai terlihat dari ujung timur, itu tandanya sudah waktunya untukku
pulang kerumah setelah menghabiskan malam hari yang begitu indahnya di taman
kota. Ya, kehidupan di tempat ini dimulai hanya saat malam hari atau saat matahari
tak terlihat. Hal itu dikarenakan panas dari sinar matahari mampu membakar dan menjadikan
kami arang dalam waktu sekejab. Itu semua bukan mitos atau cerita belaka karena
pernah terjadi sekitar 200 tahun yang lalu.
Saat matahari terlihat, tak ada satupun dari kami yang keluar rumah. Oleh karena itu hampir seratus persen kegiatan kami lakukan saat malam hari atau saat matahari tak terlihat. Seperti ketika kami, anak-anak Spica pergi ke sekolah. Sekolah disini hanya dua kali dalam satu minggu, yaitu hari ke-3 dan ke-5 saja dan itupun hanya berlangsung dari jam tiga sore sampai jam lima sore. Satu-satunya alasan kenapa sekolah hanya dua kali dalam seminggu itu dikarenakan matahari tak akan bersinar saat itu.
“Vett,
ayo cepat masuk ke dalam rumah. Matahari sudah hampir terlihat”. Teriak seorang
wanita dari dalam rumah.
“Iya,
Mum”. Jawabku sambil berlari masuk ke dalam rumah.
“Kamu
habis dari mana aja jam segini baru pulang?” tanya Mummy yang sudah duduk di
depan meja makan dengan nada yang khawatir.
“Biasa
Mum, habis dari taman. Puppy mana Mum? Tidak pulang lagi?” tanyaku, begitu tak
ku lihat Puppy di meja makan.
“Puppy
batal pulang hari ini, Pak Kepala minta buat penyelidikan kehidupan di bumi
dipercepat, sayang... makanya Puppy dan timnya lembur nyelesain pesawat buat ke
bumi”. Jawab Mummy.
“Kak,
itu apa?” tanya anak kecil yang duduk di depanku.
“Eh,
ini... kakak nemuin ini pas duduk di taman tadi, tiba – tiba ada di samping
kakak. Dari model dan warna kertasnya sepertinya ini bukan berasal dari sini”.
Jawabku sambil membolak-balik kertas yang ku pegang kemudian memberikannya
kepada anak kecil yang duduk di depanku.
“Itu
sepertinya berasal dari bumi”. Kata Mummy sambil mengamati kertas yang di
pegang anak kecil yang tidak lain adalah adikku.
“Mummy
tahu?” tanyanya dengan nada penasaran.
“Iya,
Mummy tahu. Dulu waktu Mummy kan pernah ikut tim pengamat di bumi, Mummy sempat
melihat kertas yang hampir sama dengan yang di temukan kakakmu itu. Hanya saja,
kertas yang ditemukan kakakmu itu masih terlihat baru tak seperti yang Mummy
lihat dulu. Kertas yang Mummy lihat dulu berwarna kecoklatan dan bentuknya juga
aneh”. Kata Mummy sambil mengingat-ingat kejadian yang entah sudah berapa tahun
berlalu.
“Di
bumi, Mum? Tapi bagaimana bisa manusia di bumi mengirim surat buat kak Vetta
yang berada di Spica? Lagi pula kak Vetta kan belum pernah datang ke bumi sama
sekali?” tanya adikku satu-satunya yang rupanya masih penasaran.
“Mungkin
itu dari orang yang pernah datang ke bumi”. Jawab Mummy asal.
“Ah...
biarlah, tadi Vetta ngambil soalnya tertarik sama warna kertasnya aja kok.
Vetta gak peduli sama isinya”, kataku akhirnya. “Verro, ayo tidur jangan ganggu
Mummy lagi. Nanti malam jadi ikut kakak ke tempat kerja Puppy gak?” tanyaku
sambil berdiri dari kursi.
Karena
memang kalau tau Puppy tidak pulang ke rumah, Mummy sering memintaku untuk
pergi ke tempat kerja Puppy walaupun hanya sekedar memberikan baju ganti dan
makanan yang di masak oleh Mummy sendiri. Puppy memang membiasakan kami (aku
dan Verro) untuk lebih memilih makan masakan yang di masak oleh Mummy sendiri
dari pada beli di luar dan Mummy juga menolak untuk mempunyai asisten rumah
tangga kalau hanya sekedar mengurus kepeluan rumah dan memasak, salah satu yang
menjadi alasannya karena Mummy tidak mau keahlian memasak yang di pelajarinya
sewaktu berada di bumi akan sia-sia.
“Jadi
dong kak. Ya udah Mum, Verro tidur dulu ya”. Katanya sambil mencium pipi Mummy,
aku yang melihat tingkahny hanya tersenyum sambil melakukan apa yang tadi di lakukan,
yaitu mencium pipi Mummy yang menjadi ritual wajib kami.
Malam
ini, setelah mengunjungi tempat kerja Puppy aku kembali duduk di taman kota dan
membiarkan Verro pulang kerumah sendiri. Saat malam tiba, duduk di taman sambil
melihat bumi dari sini adalah hal yang sangat aku suka. Sebenarnya aku sudah
mengajak Verro untuk pergi ke taman menemaniku, tapi dia menolak dengan alasan
akan pergi ke suatu tempat dengan Iddan yang rumahnya tak jauh dari rumah kami.
Maka akhirnya akupun pergi ke taman seorang diri menikmati keindahan malam
sambil melihat beberapa orang yang sedang asik memadu kasih. Memang pemandangan
di taman saat malam hari seperti ini cocok untuk orang yang sedang menghabiskan
waktu untuk kencan, karena tempat ini sangat romantis bahkan di Spica sendiri
tempat ini yang paling terkenal.
“Puppy, tahu gak tadi
kak Vetta dapat surat cinta”. Kata Verro saat kami sedang menemui Puppy
ditempat kerjanya.
“Benar itu, Vett?”
tanya Puppy penuh selidik. Aku yang ditanya hanya mengangguk saja. ‘Ah, Verro
tak bisa jaga rahasia’ pikirku.
“Mana, coba Puppy lihat
suratnya”. Kata Puppy, akupun segera menyerahkan surat itu kepada Puppy.
“Bagaimana bisa ada manusia di bumi yang menyukaimu?” tanya Puppy curiga
setelah membaca isi surat itu.
“Entahlah, Pup. Mummy
bilang bisa saja itu salah alamat atau memang kebetulan namanya sama dengan
namaku”. Kataku mencoba menjelaskan kepada Puppy.
Puppy sepertinya
kutrang puas dengan jawabanku, terlihat jelas ketika beliau akan menanyakan hal
lain yang belum ku kethaui bertepatan dengan itu Pak Arsen datang.
“Vin, kamu sudah
memilih tim untuk pergi ke bumi?” tanya Pak Arsen tiba-tiba dan langsung duduk disebelah Puppy.
“Belum. Aku belum
sempat memilih orang yang akan pergi ke bumi. Rasanya juga aku tak bisa lagi
meminta istriku untuk pergi ke bumi”. Kata Puppy terlihat sambil berpikir.
“Memangnya kenapa Mummy
gak bisa pergi ke bumi, Pup? Bukannya Mummy sudah pernah pergi kesana?” tanya
Verro yang dari tadi hanya diam mengamati kami sambil memakan kue yang di buat
oleh Mummy.
Sambil mendengar
percakapan kedua orang tua itu aku iseng membaca kertas yang dibawa Pak Arsen,
yang isinya ternyata persyaratan untuk ikut tim penelitian di bumi. Rasanya aku
ingin sekali ikut dalam tim itu, tapi mengingat lama waktu yang nantinya akan
aku habiskan di bumi dengan orang-orang asing dan lingkungan yang sangat asing
bagiku membuatku harus berpikir berulang kali sebelum mengajukan diri kepada
Puppy. Selain itu aku juga tak yakin apa Puppy dan Mummy akan menggijinkanku,
disamping aku sama sekali tak punya pengalaman tentang itu juga aku belum
menyelesaikan sekolahku.
“Justru karena Mummy
sudah pernah pergi ke bumi, Mummy tak bisa lagi pergi kesana Verr. Takutnya
akan ada manusia di bumi yang masih ingat wajah Mummy kalian dan akhirnya
mengenalinya. Kaalau itu sampai terjadi, para manusia di bumi pasti akan
melakukan penelitian tentang kita dan tempat tinggal kita”. Kata Puppy
menjelaskan.
Aku mengerti maksud
Puppy, karena sebelumnya aku pernah membaca di buku tentang kehidupan di bumi.
Bagiku sendiri, kehidupan di bumi jauh lebih ribet daripada di Spica. Disini
kami hanya mempunyai satu hukum yang dibuat oleh pemimpin kami, dan hukum itu
yang akan mengatur segala kehidupan di Spica. Sanksi dan hukuman disini juga
jelas, tak seperti di bumi yang berat sebelah.
Pernah aku tertawa
membaca tulisan beberapa penduduk di bumi, bahwa tak ada hukum yang benar-benar
adil di dunia ini. Mereka belum tau Spica, pikirku saat itu. Disini bisa aku
katakan hukum benar-benar adil, bahkan orang-orangpun harus berpikir seribu
kali sebelum melakukan tindak kejahatn. Hak-hak bagi para wanita, anak – anak
dan laki – lalipun sudah ada aturan tersendiri.
“Kalau Mummy tak
mungkin ikut tim penelitian di bumi. Bagaimana kalo Kak Vetta saja Pupp yang
pergi?” tanya Verro kepada Puppy. Terlihat Puppy berpikir cukup keras mendengar
usulan dari Verro. Walaupun aku akui senang mendengar ide dari Verro, aku tak
yakin kalau Puppy akan mengijinkannya.
“Nah ide bagus itu Vin,
walaupun Vetta masih sekolah pemimpin bilang itu tak masalah, dan bagi anak
sekolah yang ikut nanti bisa langsung dapat sertifikat lulus”. Kata Pak Arsen
mencoba menyakinkan.
Bayangan
tentang kejadian di kantor Puppy tadi masih menghantuiku. Dalam hati aku
sebenarnya ingin dan senang sekali bisa berkesempatan untuk melihat dan
merasakan kehiduan di bumi. Tapi aku ingat, begitu tiba di bumi nanti kami semua
akan berpencar ke wilayah-wilayah tertentu dan dengan begitu bisa dipastikan
aku akan benar-benar sendiri ketika sampai di bumi dalam jangka waktu yang
cukup lama, yaitu tiga tahun waktu bumi.
Selain
itu aku sendiri masih penasaran kenapa jarang orang di Spica yang mau ikut tim
penelitian bumi padahal dengan ikut tim itu sendiri akan mendapat penghargaan
tersendiri dari pemimpin. ‘Mungkin nanti aku bisa bertanya kepada Mummy biar
lebih jelasnya’ pikirku. Tak sengaja aku melihat kembali isi surat yang kemarin
aku temukan disini.
Aku Mencintaimu, Elv
Rian
“Siapa
yang memberikannya kepadaku?” tanyaku sendiri kemudian segera melipat kembali
surat itu dan menaruhnya ke dalam saku baju.
Karena
terlalu asyik melamun dan memikirkan tawaran langsung dari Pak Arsen dan
tentang siapa pengirim surat itu, aku jadi lupa kalau ini sudah waktunya untuk
pulang. Baru saja hendak pergi meninggalkan taman, aku melihat ada surat
seperti yang kutemukan kemarin.
Aku
ingin bertemu denganmu, Elv
Rian
‘Rian’
Nama
yang jelas-jelas aneh bagi kami penghuni Spica, karena itu bukan nama yang umum
di gunakan disini. Verro dan kedua orang tuaku sangat yakin kalau surat itu di
tujukan untukku karena Elv sendiri adalah nama keluarga kami, sehingga tak ada
orang lain yang mempunyai nama Elv selain kami. Tadi sebelum berangkat Mummy
sempat memberitahuku kalau Rian itu adalah nama yang sering di gunakan di bumi.
Setelah
kubaca isi surat itu, segera aku melipatnya kembali dan bergegas pulang sebelum
matahari mulai terbit. Ketika sudah sampai di halaman rumah, ku lihat Mummy
sedang menungguku sambil duduk-duduk di teras rumah memandangi bunga-bunga yang
sedang mekar. Mummy memng sangat menyukai bunga, itu yang di katakan kakek
padaku dulu dan aku mewarisi hobi Mummy. Dan ketika melihatku sudah sampai
rumah Mummy kemudian masuk ke dalam rmah mendahuluiku.
“Vett,
Mummy mau bicara sebentar sama kamu. Sini duduk disamping Mummy” kata Mummy
yang duduk di ruang tamu, akupun kemudian duduk di samping Mummy.
“Ada
apa Mumm?” tanyaku saat sudah duduk di samping Mummy.
“Soal
tawaran untuk jadi tim yang bakalan ke bumi. Verro tadi cerita ke Mummy, kalau
kamu diminta untuk gabung ke tim peneliti ke bumi. Mummy saranin, kamu ikut
saja ke bumi itu, toh itu gak bakalan merugikan kamu nantinya”. Kata Mummy
sambil melihat kearahku.
“Tapi
Mum, jangka waktu disana itu tiga tahun. Vetta sendiri gak tau apa yang mau
Vetta lakukan selama itu disana. Apa Vetta bakalan betah tinggal ditempat asing
seperti itu?” tanyaku dengan nada takut tapi penasaran.
“Jangan
takut, waktu bumi berbeda dengan waktu di Spica. Tiga tahun itu tak lama kok
Vett. Bahkan mungkin kamu bakalan berpikir kalau waktu itu sangat singkat. Soal
nanti apa yang kamu lakukan, cukup tulis aja apa yang kamu lihat, ketahui dan
alami selama di bumi. Lagi pula tak harus tiga tahun, kamu bisa memilih antara
satu sampai tiga tahun”. Kata Mummy menjelaskan.
“Oh
iya Mum, katanya kan kalau ikut tim penelitian bumi bakalan dapat penghargaan
dari pemimpin. Kalau memang seperti itu, kenapa tidak ada yang mau pergi
kesana?” tanyaku yang masih penasaran.
“Itu
karena banyak yang gagal waktu menjalani penelitian dan ada beberapa
diantaranya yang tidak kembali lagi kesini, ditambah lagi beredar gosip kalau
kita mengajukan diri sendiri untuk pergi ke bumi nantinya kita bisa terbakar
oleh sinar matahari disana. Namun tentu saja berita itu bohong, ada alasan
sendiri kenapa banyak diantara mereka yang akhrinya tidak kembali lagi ke Spica”.
Kata Mummy menjelaskan, akhirnya akupun mengerti alasan kenapa tidak ada yang
mengajukan diri.
“Tapi
Mum, apa Vetta bisa betah berada disana nantinya?” tanyaku masih penasaran
tentang apa yang akan aku lakukan disana.
“Pasti.
Pasti bakalan betah, sejak dulu selalu ada anggota tim kita yang tak mau
kembali dan memilih untuk menetap di bumi. Bahkan bisa jadi nanti kamu menjadi
salah satu yang seperti mereka”. Kata Mummy sambil tertawa.
“Ih,
kok bisa Mum?” tanyaku yang masih tak mengerti maksud perkataan Mummy.
“Ya
kan kamu sudah ada yang suka. Bisa jadi nantinya kamu akan menghabiskan waktu
dan hidup bersama manusia di bumi”. Kata Mummy sambil tertawa.
“Gak
mau Mum. Vetta gak mau jadi penduduk tetap di bumi. Vetta Cuma mau jadi
penduduk Spica aja”. Kataku sambil menggeleng – gelengkan kepala sampai terasa
pusing. “Tapi kalau pergi ke bumi Vetta bakalan mau, Vetta penasaran bagaimana
rasanya berdiri dibawah sinar matahari”. Kataku sambil berlalu pergi ke kamar
tidur, tentunya setelah ritual wajib kami yaitu mencium kedua pipi Mummy.
Mummy :
panggilan untuk Ibu
Puppy : panggilan untuk Ayah

Tidak ada komentar:
Posting Komentar