‘Duk’
Tiba-tiba
aku merasakan kepalaku kena lemparan sesuatu saat aku kembali dari ruang guru
untuk menyerahkan formulir, kemudian perlahan-lahan kesadaranku semakin hilang
saat kepalaku tepat membentur lapangan.
“Ah...
syukur kamu sudah sadar. Ini tas kamu”. Kata Elvi sambil meletakkan tas diatas
kursi.
“Elvi,
apa tadi aku pingsan?” tanyaku kemudian. Ini kali pertama selama aku hidup bisa
pingsan.
“Iya,
tadi kamu pingsan kena lemparan bola basket. Tadi juga mereka yang membawamu
kesini”. Kata Elvi menjelaskan.
“Terus
yang membawaku kesini siapa?” tanyaku sambil memegangi kepalaku yang masih
pusing.
“Ah
iya, santai aja. Hati-hati di jalan ya Elv”. Kataku akhirnya.
Tak
lama setelah kepergian Elvi, aku putuskan untuk pulang kerumah saja. Entah
mengapa semakin lama berada di sekolahan sendiri membuat perasaanku gak enak.
Aku akui, aku memang suka sendirian tapi suasananya tidak seperti ini, suasana
seperti ini jujur membuatku takut.
“Hai.
Maaf ya tadi”, kata seorang cowok yang tak ku kenal begitu aku sampai di
gerbang sekolah.
“Eh,
kamu siapa?” tanyaku yang masih asing dengan orang itu. Tapi dari seragam yang
dipakainya sama dengan ku, itu artinya kami satu sekolah bukam?.
“Aku
yang tadi melempar bola kearahmu. Bukan sengaja sih sebenarnya. Tapi aku gak
nyangka aja kalau kamu bakalan pingsan gara-gara kena lemparan bola tadi”.
Katanya sambil tersenyum. ‘Berarti dia yang bernama Darius, yang di bilang Elvi
tadi’ pikirku.
“Ah
iya gak apa-apa. Aku juga salah karena gak liat-liat waktu jalan”. Kataku agak
merasa gak enak sekaligus malu dengan kejadian tadi.
“Oh
iya, kamu satu kelas sama Elvi ya?” tanyanya kemudian.
“Iya,
kok kakak bisa tau?” tanyaku. Sengaja aku menggunakan panggilan kakak, selain
untuk menghormatinya juga karena aku juga masih gak yakin nama dia siapa.
“Gak
apa-apa kok. Oh iya, mau aku antar pulang?” tanyanya sambil tersenyum.
“Ah
gak usah kak, rumahku kebetulan dekat kok sama sekolahan”. Kataku berusaha
menolak sehalus mungkin.
“Gak
apa-apa kok, kebetulan kalau rumah kita deketan”, katanya kemudian. Aku tentu
saja terkejut mendengar perkataannya. “Tenang, aku tau dari Elvi kok”. Katanya
kemudian seperti dia bisa menebak pikirannku.
Akhirnya
kami pulang bersama, dan benar saja rumah yang aku tempati itu dekat dengan
rumahnya. Dan entah mengapa mengetahui hal itu, membuat sebagian hatiku senang.
Setelah mengenal Darius aku jadi mengerti sedikit kepribadiannya, sosok Darius
mengingatkanku kepada Dante yang tidak lain adalah mantan kekasihku dahulu. Walaupun
aku akui kalau Dante jauh lebih sopan, tapi Darius adalah sosok yang sangat
menyenangkan. Karena jarak rumah dengan sekolahan yang dekat dia pergi ke
sekolah dengan jalan kaki, sama sepertiku. Saat di perjalanan dia sibuk
membicarakan banyak hal, mulai dari basket yang dia sukai sampai ke Kitty
kucing kesayangannya. Pulang bersama Darius membuatku tak sadar kalau kita
sudah sampai di rumah.
Sampai
rumah aku ingat tugas yang seharusnya aku lakukan selain memikirkan kakak kelas
yang baru pertama aku temui. Dan jadilah, malam ini aku begadang lagi
mengerjakan tugas yang diberikan pimpinan kepadaku sebagai perwakilan ke bumi.
Kehidupan di bumi tidak sepeerti di
Spica. Banyak hal-hal yang berantakan disini bahkan terkesan ribet. Seperti halnya
mengurus kepindahan sekolah dan proses belajar. Di sekolah kami harus
mempelajari buku yang sangat tebal-tebal dan harganya juga terhitung mahal. Pemerintah
di bumi sama sekali tidak memfasilitasi kebutuhan sekolah anak-anak bumi.
Beberapa penduduk bumi ada yang ramah,
mereka terbiasa mengulurkan tangan kanannya untuk berjabat tangan, bahkan saat
berkenalan. Namun tidak semuanya seperti itu, ada beberapa yang bahkan terkesan
cuek dan sedikit angkuh.
Makanan di bumi tak jauh berbeda dengan
di Spica, atau mungkin karena lidahku sudah terbiasa dengan masakan Mummy. Namun
harga untuk makanan disini sangat bervariasi bahkan cenderung mahal apalagi
makanan itu sama sekali tidak membuatku kenyang.
Sekolah-sekolah di bumi sangat di
bagi-bagi, ada sistem favorit dan biasa-biasa saja. Mereka bilang standarnya
hanya dari nilai kelulusan dan persentase kelulusan saja.
Di bumi ada eskul astronomi yang di
gunakan untuk mengamati kegiatan yang ada di luar angkasa. Namun itu sepertinya
hanya sebatas pengamatan. Peradaban di bumi masih sangat jauh tertinggal di
banding di Spica.
Sinar matahari disini terasa hangat.
Demikian
aku mengakhiri catatan penelitian pertamaku di bumi, setelah menyelesaikan
catatan itu aku bergegas untuk tidur karena aku lihat hari sudah semakin larut
malam. Namun lagi-lagi aku masih terjaga, karena terlalu sulit untuk tidur
akhirnya aku memilih untuk duduk di teras rumah sambil memandang langit melihat
bintang. Diantara ribuan bintang disana salah satunya adalah Spica, walaupun
terkadang Spica tak bisa terlihat dari bumi tapi aku ingat kami selalu bisa
melihat bumi. Ketika sedang asik menatap langit, ingatanku kembali ke hari dimana
aku akan berangkat ke bumi.
“Jika nanti sudah
keputusanmu untuk memilih menetap di bumi, jangan pernah lupakan kami yang ada
disini dan jangan lupa untuk tetap merahasiakan keberadaan kami semua dan
Spica. Juga tepat satu tahun waktu bumi, berkumpullah dengan yang lain juga
serahkan hasil penelitianmu selama masa tugas itu, demikian untuk dua atau tiga
tahun”. Kata Mummy kepadaku.
“Ingat, apapun
keputusanmu nanti kami akan selalu mendukungmu. Selain itu, jika memang harus
dan kamu gak punya pilihan lain, kamu boleh mengajak manusia kesini namun
dengan resiko dia tidak mungkin kembali lagi ke bumi”. Kata Puppy.
“Kak, jangan dengar
Puppy dan Mummy. Kamu harus kembali. Ingat aku menunggu cerita-cerita darimu
tentang keadaan bumi”. Kata Verro. Aku hanya mengangguk mendengar kata-katanya.
Memang tak pernah terbersit dalam benakku untuk menetap di bumi.
“Oh iya,jangan lupa
untuk mencari pekerjaan disana. Karena uang yang kamu dapat itu terbatas.
Pekerjaan apapun itu, yang terpenting adalah bisa mempertahankanmu untuk hidup
disana. Ingat kehidupan disana tak semudah disini”. Kata Mummy.
“Aish.
Sial!” teriakku sendiri, kemudian segera berlari kedalam rumah. Aku lupa
mencari pekerjaan dan parahnya juga aku tidak pernah mengecek berapa uang yang
masiih kupunya. Dan benar saja, sisa uang yang kupunya tinggal sedikit sehingga
mau tidak mau aku harus mencari pekerjaan, namun aku sendiri tidak tahu
pekerjaan apa yang nantinya bisa ku ambil. Sedangkan, aku tak punya kemampuan
apa-apa yang bisa kuandalkan. Sungguh barang-barang di bumi harganya sangat
mahal, bahkan untuk mendapatkan sebuah Hp saja aku harus mengeluarkan sepuluh lembar
lebih uang seratus ribuan. Sebenarnya aku terpaksa membeli Hp, tapi karena
Mummy menmgingatkanku untuk membeli itu mau tak mau aku akhirnya membelinya.
Dan
benar saja, gara-gara memikirkan hal itu, sukses membuatku terjaga semalaman.
Bahkan pagi ini aku harus berangkat sekolah dengan keadaan yang sangat
mengantuk, jika kemarin aku masih bisa tidur satu jam, kali ini aku benar-benar
tidak bisa tidur.
DICARI
PEKERJAAN
UNTUK
TAMAN.
Langkahku
benar-benar terhenti melihat pengumuman itu ketika dalam perjalanan ke sekolah.
Tapi pekerjaan untuk taman itu yang seperti apa? Walaupun tidak tahu, namun
akhirnya aku memutuskan untuk masuk dan menanyakan detail pekerjaan itu serta
syarat-syaratnya apa saja.
“Permisi”.
Kataku kepada seorang wanita tua yang berada di toko bunga itu. Orang yang aku
sapa itu segera mendongakkan kepalanya melihat kearahku.
“Iya
ada apa nak?” tanyanya setelah melihatku.
“Maaf,
Bi. Lowongan pekerjaan itu masih berlaku tidak?” tanyaku berusaha sesopan
mungkin.
“Masih,
emangnya ada apa dek?” tanyanya yang sepertinya tak mengerti maksud dan
tujuanku menanyakan itu.
“Boleh
gak Bi, kalau saya bekerja disini?” tanyaku sambil mengutrarakan maksud dan
tujuanku.
Bibi
itu terkejut mendengar pertanyaanku, namun tak lama beliau menjawab. “Maaf, tapi
kamu masih sekolah nak? Disini pelajar tidak boleh bekerja, apa kamu tidak
tahu?” jawabnya. Aku terkejut mendengar jawabannya itu. Sungguh repot hidup di
bumi.
“Tapi
saya bisa bekerja sepulang sekolah sampai malam, Bi. Jadi boleh ya saya bekerja
disini”. Kataku sedikit berharap di perbolehkan bekerja disana.
“Ngomong-ngomong
dimana kedua orang tua mu nak? Apa mereka tau kalau kamu akan bekerja?” tanya
Bibi itu.
“Mereka
ada di kampung halaman, Bi. Saya merantau disini dan memang berniat ingin hidup
mandiri, jadi saya mau bekerja disini”. Kataku sedikit menyakinkan. Dan aku
juga tidak bohong perihal orang tua yang ada di kampung halaman dan hidup
mandiri.
Setelah
mendengar kata-kataku tadi akhirnya sang Bibi mengijinkanku untuk bekerja di
tokonya setelah pulang sekolah sampai jam7 malam. Walaupun gaji yang aku dapat
dari sana tidak besar, tapi setidaknya aku punya penghasilan untuk bertahan
paling tidak selama satu tahun kedepan. Karena aku sendiri masih belum
memutuskan akan tinggal berapa lama di bumi. Aku berharap sebelum masa tugasku
habis, aku sudah berhasil menemukan sosok Rian yang mengirimiku surat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar