Minggu, 09 Oktober 2016

Can't Love You #Part03

‘Duk’
Tiba-tiba aku merasakan kepalaku kena lemparan sesuatu saat aku kembali dari ruang guru untuk menyerahkan formulir, kemudian perlahan-lahan kesadaranku semakin hilang saat kepalaku tepat membentur lapangan.
“Ah... syukur kamu sudah sadar. Ini tas kamu”. Kata Elvi sambil meletakkan tas diatas kursi.
“Elvi, apa tadi aku pingsan?” tanyaku kemudian. Ini kali pertama selama aku hidup bisa pingsan.
“Iya, tadi kamu pingsan kena lemparan bola basket. Tadi juga mereka yang membawamu kesini”. Kata Elvi menjelaskan.
“Terus yang membawaku kesini siapa?” tanyaku sambil memegangi kepalaku yang masih pusing.
“Oh, itu Darius anak kelas XI”, katanya memberitahu. “Oh iya aku pulang dulu ya, Ayah udah jemput. Maaf ya Vett gak bisa nemenin”. Kata Elvi akhirnya.
“Ah iya, santai aja. Hati-hati di jalan ya Elv”. Kataku akhirnya.
Tak lama setelah kepergian Elvi, aku putuskan untuk pulang kerumah saja. Entah mengapa semakin lama berada di sekolahan sendiri membuat perasaanku gak enak. Aku akui, aku memang suka sendirian tapi suasananya tidak seperti ini, suasana seperti ini jujur membuatku takut.
“Hai. Maaf ya tadi”, kata seorang cowok yang tak ku kenal begitu aku sampai di gerbang sekolah.
“Eh, kamu siapa?” tanyaku yang masih asing dengan orang itu. Tapi dari seragam yang dipakainya sama dengan ku, itu artinya kami satu sekolah bukam?.
“Aku yang tadi melempar bola kearahmu. Bukan sengaja sih sebenarnya. Tapi aku gak nyangka aja kalau kamu bakalan pingsan gara-gara kena lemparan bola tadi”. Katanya sambil tersenyum. ‘Berarti dia yang bernama Darius, yang di bilang Elvi tadi’ pikirku.
“Ah iya gak apa-apa. Aku juga salah karena gak liat-liat waktu jalan”. Kataku agak merasa gak enak sekaligus malu dengan kejadian tadi.
“Oh iya, kamu satu kelas sama Elvi ya?” tanyanya kemudian.
“Iya, kok kakak bisa tau?” tanyaku. Sengaja aku menggunakan panggilan kakak, selain untuk menghormatinya juga karena aku juga masih gak yakin nama dia siapa.
“Gak apa-apa kok. Oh iya, mau aku antar pulang?” tanyanya sambil tersenyum.
“Ah gak usah kak, rumahku kebetulan dekat kok sama sekolahan”. Kataku berusaha menolak sehalus mungkin.
“Gak apa-apa kok, kebetulan kalau rumah kita deketan”, katanya kemudian. Aku tentu saja terkejut mendengar perkataannya. “Tenang, aku tau dari Elvi kok”. Katanya kemudian seperti dia bisa menebak pikirannku.
Akhirnya kami pulang bersama, dan benar saja rumah yang aku tempati itu dekat dengan rumahnya. Dan entah mengapa mengetahui hal itu, membuat sebagian hatiku senang. Setelah mengenal Darius aku jadi mengerti sedikit kepribadiannya, sosok Darius mengingatkanku kepada Dante yang tidak lain adalah mantan kekasihku dahulu. Walaupun aku akui kalau Dante jauh lebih sopan, tapi Darius adalah sosok yang sangat menyenangkan. Karena jarak rumah dengan sekolahan yang dekat dia pergi ke sekolah dengan jalan kaki, sama sepertiku. Saat di perjalanan dia sibuk membicarakan banyak hal, mulai dari basket yang dia sukai sampai ke Kitty kucing kesayangannya. Pulang bersama Darius membuatku tak sadar kalau kita sudah sampai di rumah.
Sampai rumah aku ingat tugas yang seharusnya aku lakukan selain memikirkan kakak kelas yang baru pertama aku temui. Dan jadilah, malam ini aku begadang lagi mengerjakan tugas yang diberikan pimpinan kepadaku sebagai perwakilan ke bumi.
Kehidupan di bumi tidak sepeerti di Spica. Banyak hal-hal yang berantakan disini bahkan terkesan ribet. Seperti halnya mengurus kepindahan sekolah dan proses belajar. Di sekolah kami harus mempelajari buku yang sangat tebal-tebal dan harganya juga terhitung mahal. Pemerintah di bumi sama sekali tidak memfasilitasi kebutuhan sekolah anak-anak bumi.
Beberapa penduduk bumi ada yang ramah, mereka terbiasa mengulurkan tangan kanannya untuk berjabat tangan, bahkan saat berkenalan. Namun tidak semuanya seperti itu, ada beberapa yang bahkan terkesan cuek dan sedikit angkuh.
Makanan di bumi tak jauh berbeda dengan di Spica, atau mungkin karena lidahku sudah terbiasa dengan masakan Mummy. Namun harga untuk makanan disini sangat bervariasi bahkan cenderung mahal apalagi makanan itu sama sekali tidak membuatku kenyang.
Sekolah-sekolah di bumi sangat di bagi-bagi, ada sistem favorit dan biasa-biasa saja. Mereka bilang standarnya hanya dari nilai kelulusan dan persentase kelulusan saja.
Di bumi ada eskul astronomi yang di gunakan untuk mengamati kegiatan yang ada di luar angkasa. Namun itu sepertinya hanya sebatas pengamatan. Peradaban di bumi masih sangat jauh tertinggal di banding di Spica.
Sinar matahari disini terasa hangat.
Demikian aku mengakhiri catatan penelitian pertamaku di bumi, setelah menyelesaikan catatan itu aku bergegas untuk tidur karena aku lihat hari sudah semakin larut malam. Namun lagi-lagi aku masih terjaga, karena terlalu sulit untuk tidur akhirnya aku memilih untuk duduk di teras rumah sambil memandang langit melihat bintang. Diantara ribuan bintang disana salah satunya adalah Spica, walaupun terkadang Spica tak bisa terlihat dari bumi tapi aku ingat kami selalu bisa melihat bumi. Ketika sedang asik menatap langit, ingatanku kembali ke hari dimana aku akan berangkat ke bumi.
“Jika nanti sudah keputusanmu untuk memilih menetap di bumi, jangan pernah lupakan kami yang ada disini dan jangan lupa untuk tetap merahasiakan keberadaan kami semua dan Spica. Juga tepat satu tahun waktu bumi, berkumpullah dengan yang lain juga serahkan hasil penelitianmu selama masa tugas itu, demikian untuk dua atau tiga tahun”. Kata Mummy kepadaku.
“Ingat, apapun keputusanmu nanti kami akan selalu mendukungmu. Selain itu, jika memang harus dan kamu gak punya pilihan lain, kamu boleh mengajak manusia kesini namun dengan resiko dia tidak mungkin kembali lagi ke bumi”. Kata Puppy.
“Kak, jangan dengar Puppy dan Mummy. Kamu harus kembali. Ingat aku menunggu cerita-cerita darimu tentang keadaan bumi”. Kata Verro. Aku hanya mengangguk mendengar kata-katanya. Memang tak pernah terbersit dalam benakku untuk menetap di bumi.
“Oh iya,jangan lupa untuk mencari pekerjaan disana. Karena uang yang kamu dapat itu terbatas. Pekerjaan apapun itu, yang terpenting adalah bisa mempertahankanmu untuk hidup disana. Ingat kehidupan disana tak semudah disini”. Kata Mummy.
“Aish. Sial!” teriakku sendiri, kemudian segera berlari kedalam rumah. Aku lupa mencari pekerjaan dan parahnya juga aku tidak pernah mengecek berapa uang yang masiih kupunya. Dan benar saja, sisa uang yang kupunya tinggal sedikit sehingga mau tidak mau aku harus mencari pekerjaan, namun aku sendiri tidak tahu pekerjaan apa yang nantinya bisa ku ambil. Sedangkan, aku tak punya kemampuan apa-apa yang bisa kuandalkan. Sungguh barang-barang di bumi harganya sangat mahal, bahkan untuk mendapatkan sebuah Hp saja aku harus mengeluarkan sepuluh lembar lebih uang seratus ribuan. Sebenarnya aku terpaksa membeli Hp, tapi karena Mummy menmgingatkanku untuk membeli itu mau tak mau aku akhirnya membelinya.
Dan benar saja, gara-gara memikirkan hal itu, sukses membuatku terjaga semalaman. Bahkan pagi ini aku harus berangkat sekolah dengan keadaan yang sangat mengantuk, jika kemarin aku masih bisa tidur satu jam, kali ini aku benar-benar tidak bisa tidur.

DICARI PEKERJAAN
UNTUK TAMAN.
Langkahku benar-benar terhenti melihat pengumuman itu ketika dalam perjalanan ke sekolah. Tapi pekerjaan untuk taman itu yang seperti apa? Walaupun tidak tahu, namun akhirnya aku memutuskan untuk masuk dan menanyakan detail pekerjaan itu serta syarat-syaratnya apa saja.
“Permisi”. Kataku kepada seorang wanita tua yang berada di toko bunga itu. Orang yang aku sapa itu segera mendongakkan kepalanya melihat kearahku.
“Iya ada apa nak?” tanyanya setelah melihatku.
“Maaf, Bi. Lowongan pekerjaan itu masih berlaku tidak?” tanyaku berusaha sesopan mungkin.
“Masih, emangnya ada apa dek?” tanyanya yang sepertinya tak mengerti maksud dan tujuanku menanyakan itu.
“Boleh gak Bi, kalau saya bekerja disini?” tanyaku sambil mengutrarakan maksud dan tujuanku.
Bibi itu terkejut mendengar pertanyaanku, namun tak lama beliau menjawab. “Maaf, tapi kamu masih sekolah nak? Disini pelajar tidak boleh bekerja, apa kamu tidak tahu?” jawabnya. Aku terkejut mendengar jawabannya itu. Sungguh repot hidup di bumi.
“Tapi saya bisa bekerja sepulang sekolah sampai malam, Bi. Jadi boleh ya saya bekerja disini”. Kataku sedikit berharap di perbolehkan bekerja disana.
“Ngomong-ngomong dimana kedua orang tua mu nak? Apa mereka tau kalau kamu akan bekerja?” tanya Bibi itu.
“Mereka ada di kampung halaman, Bi. Saya merantau disini dan memang berniat ingin hidup mandiri, jadi saya mau bekerja disini”. Kataku sedikit menyakinkan. Dan aku juga tidak bohong perihal orang tua yang ada di kampung halaman dan hidup mandiri.

Setelah mendengar kata-kataku tadi akhirnya sang Bibi mengijinkanku untuk bekerja di tokonya setelah pulang sekolah sampai jam7 malam. Walaupun gaji yang aku dapat dari sana tidak besar, tapi setidaknya aku punya penghasilan untuk bertahan paling tidak selama satu tahun kedepan. Karena aku sendiri masih belum memutuskan akan tinggal berapa lama di bumi. Aku berharap sebelum masa tugasku habis, aku sudah berhasil menemukan sosok Rian yang mengirimiku surat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar