Sabtu, 08 Oktober 2016

Can't Love You #Part02

Pendaratan kami di bumi terjadi sekitar tiga hari yang lalu, dan benar saja beberapa penduduk bumi mulai heboh memberitakan soal benda asing yang mendarat di bumi. Dalam hati aku sempat bertanya, kenapa peradaban di bumi masih jauh tertinggal jika dibandingkan dengan kami? Padahal jika dipikir lagi, bumi tempat manusaia tinggal itu wilayahnya luas dan sangat indah. Entahlah apa yang membuat peradaban di bumi menjadi tertinggal.
Stebanya kami di bumi aku dan anggota tim yang lain segera berpencar dan menetap di lokasi yang sudah di perintahkan sebelumnya. Hal itu di lakukan agar penelitian kami bisa mencakup lingkungkungan yang luas. Setelah kami semua mendarat pun pesawat yang kami gunakan otomatis langsung menghilag dan kembali ke Spica dengan kendali otomatis, hal itu di lakukan agar tak ada manusia di bumi yang  bisa menemukannya. Kalau sampai itu di temukan aku yakin berita di bumi akan ramai membicaran tentang makhluk luar angkasa. Aku masih ingat kalau pernah di beritahu Mummy bahwa manusia di bumi masih berdebat tentang ada atau tidaknya kehidupan di luar bumi namun tak ada satupun yang berhasil menemukan jawabannya.
Disini aku tinggal di rumah kecil namun memeiliki halaman yang cukup luas dan sudah banyak ditanami bunga-bunga. Mengingatkanku pada taman kota yang menjadi tempat favoritku. Dengan begini aku bisa menghabiskan hari-hariku cukup dengan duduk di depan rumah, tak perlu harus berjalan jauh. Matahari di bumi juga berbeda jauh dengan di Spica, disini matahaari terasa hangat sedangkan di Spica sebaliknya. Hal ini tentu membuatku betah berlama-lama berada dibawah sinar matahari. Namun satu hal yang tak kusukai dari bumi, kami masuk sekolah selama enam hari dan itupun sangat lama. Jika di Spica kami hanya masuk sekolah selama dua hari dan sekolah hanya dua jam, disini kami berada di sekolah dari pagi – sore. Entahlah, apa tujuan sebenarnya manusia menerapkan sistem ini.
Pagi ini, hari pertama aku masuk di sekolah manusia. Rasanya sulit bagiku membiasakan dengan pola tidur baruku. Aku yang terbiasa tidur saat pagi sampai sore dan baru beraktifitas saat malam, disini aku harus melakukan yang sebaliknya. Gara-gara hal itu, bisa dipastikan hari pertama aku masuk sekolah sudah hampir telat. Selain karena aku bangun kesiangan aku juga belum hafal jalan-jalan disini. Namun untung saja hari ini aku tidak tersesat.
“Hai, kamu anak baru ya?” sapa gadis cantik saat melihatku berdiri di depan gerbang sekolah.
“Eh, i... Iya, aku baru pindah hari ini”. Kataku berusaha seramah mungkin. “Oh iya, ruang kepala sekolah ada dimana ya?” tanyaku kemudian.
“Ayo aku antar aja kesana sekalian. Biar cepat”, ajaknya dan akupun mengikuti kemana dia pergi, “Oh iya, kenalin aku Elvi kamu siapa?” tanyanya kepadaku sambil mengulurkan tanganya.
“Aku... panggil aja aku Vetta”. Kataku sambil membalas uluran tangannya.
Setelah kami melewati beberapa ruangan, akhirnya kami sampai di ruangan yang terdapat tulisan ‘R. Kepala Sekolah’ dan disampingnya terdapat ruang guru.
“Nah, ini ruang Kepala Sekolah. Aku duluan ya... sudah mau masuk” katanya, akupun hanya membalas dengan anggukan dan kemudian dia pergi berlalu.
‘Ah, semoga nanti aku berada di kelas yang sama dengan dia’, pikirku. Setidaknya kalau beneran iya, aku sudah mendapatkan satu teman baru. Segera saja aku mengetuk pintu kantor itu.
Setelah dari ruang kepala sekolah dan menyerahkan berkas – berkas untuk melengkapi persyaratan berada di sekolah baru ini, aku segera mengikuti seorang guru yang sepertinya akan membawaku berada di ruangan yang akan menjadi kelasku nantinya. Sungguh proses yang terlalu ribet, sambil berjalan tak hentinya aku membandingkan berada di sekolah bumi dan sekolah dari tempatku berasal. Hingga tak terasa aku sudah sampai di satu kelas yang nantinya akan menjadi kelasku, Bu guru itu kemudian menyuruhku mengenalkan diri di depan kelas bisa ku rasakan semua anak disini menatapku dengan tatapan yang sulit di artikan, karena sepertinya memang antara penduduk Spica dan penduduk di bumi terdapat perbedaan yang mencolok, yaitu tentang warna kulit kami. Penduduk Spica cenderung berwarna putih pucat tidak seperti manusia di bumi, hal itu di karenakan kami selama hidup menghindari matahari.
“Selamat pagi, perkenalkan namaku Elvetta atau biasa di panggil Vetta. Aku baru pindah ke sekolah ini hari ini karena alasan pribadi”. Kataku sambil berdiri di depan kelas, aku bingung apa lagi yang harus aku katakan untuk memperkenalkan diri, kemudian ku beranikan diri melihat ke arah guru tadi yang sedang duduk di kursi kebesarannya.
“Ya sudah, silahkan duduk kalau begitu”. Katanya lembut, aku hanya mengangguk sambil tersenyum. Baru saja aku hendak melangkah menuju bangku kosong yang ada di belakang Bu guru itu memanggilku lagi.
“Vetta, jam istirahat nanti serahin ini ke Ibu ya”. Kata wanita yang ternyata adalah wali kelasku sambil menyerahkan selembar kertas kearahku.
“Ini apa Bu?” tanyaku yang masih tak mengerti.
“Ini formulir untuk mengetahui nanti eskul apa yang mau kamu ikuti”. Kata guru itu menjelaskan, aku hanya mengangguk saja walaupun aku masih tak mengerti maksudnya.
Akupun segera menuju ke bangku kosong yang berada di deretan paling terakhir.
‘Heeehh....?! ada tas disini bukankah itu artinya aku tak akan duduk sendirian?’, pikirku namun tak terlalu aku hiraukan, sambil duduk dan memulai aktivitas belajarku di bumi untuk pertama kalinya.
“Ssstt... Ssstt... Vett”, panggil sebuah suara dari depanku saat aku sedang asik-asiknya melamun.
“I... iya ada apa?” jawabku yang masih dalam keadaan terkejut. “Lho bukannya kamu Elvi ya? Aku baru sadar kalau kita sekelas?” tanyaku kemudian, begitu sadar kalau yang tadi memanggilku adalah Elvi, teman pertamaku yang ku temui di depan sekolah tadi.
“Kamu sih, dari tadi asik melamun aja. Oh ya kenalin aku Christine”. Kata cewek yang duduk di sebelah Elvi.
“Hehehe... maaf, aku soalnya masih mengantuk. Oh iya, aku Vetta”. Kataku yang juga mengenalkan diri. ‘Ah, sepertinya manusia di bumi itu ramah semua. Kalau benar seperti itu, mungkin yang di bilang Mummy kalau aku bakalan betah disini itu bukan mustahil’ pikirku dalam hati.
“Oh iya, yang duduk disebelahku itu siapa sih? Tasnya ada tapi manusianya tidak ada?” tanyaku yang masih penasaran dengan siapa yang akan berada di sebelahku.
“Ow.. dia Hadrian. Tapi kamu harus sabar ya kalau di sebelah dia”. Kata Christian menjelaskan.
Jawaban dari Christine sama sekali tak membuatku puas, justru semakin penasaran tentang sosok Hadrian yang dibilangnya. Baru saja aku hendak menanyakannya lebih lanjut, ada seorang gadis cantik yang menghampiri kami atau lebih tepatnya menghampiri dua orang di depanku.
“Hai, kenalin aku Vetta. Kamu siapa?” tanyaku kepada gadis yang baru saja menghampiri kami sambil mengulurkan tangan.
“Margareth”. Jawabnya singkat tanpa berniat membalas uluran tanganku.
Aku yang melihat kalau gadis yang bernama Margareth tak akan membalas uluran tanganku, akhirnya menarik kembali. Apa aku melakukan kesalahan saat memperkenalkan diri? Sepertinya tidak. Setelah tiba di bumi, aku sempat membaca buku tentang cara-cara berkenalan di bumi dan caranya itu sama seperti yang aku lakukan tadi. ‘Apa manusia di bumi memiliki karakter yang berbeda – beda, ya?’ pikirku.
“Vett. Ayo ikut kami ke kantin”. Ajak Elvi.
“Eh, I... iya ayo”. Jawabku.
“Kamu melamun lagi, Vett”. Kata Elvi kemudian. Aku hanya tersenyum kemudian mengikutinya pergi ke tempat yang di namakan dengan kantin. ‘Apakah kantin disini sama dengan di Spica, ya?’ pikirku yang masih terlalu penasaran dengan kehidupan yang di bumi.
“Hati – hati kesambet lho melamun mulu”, kata Margareth. “ Cit, Ca. Ke kantin gak?” tanya Margareth berdiri di dekat pintu.
“Ayo!!” jawab gadis yang duduk tak jauh dari pintu. Sekilas aku mengira mereka kembar, tapi ternyata tidak. Hanya model rambut dan aksesorisnya aja yang sama.
Ternyata letak tempat yang disebut dengan kantin itu tak begitu jauh dari kelasku berada. Masuk ke kantin aku baru tau kalau yang disebut dengan kantin adalah tempat jual berbagai macam makanan sama seperti di Spica. Akupun dengan iseng mencoba membeli makanan yang di sebut bakso. ‘semoga rasanya sama dengan bakso di tempatku berasal’, pikirku. Sebenarnya aku berniat memesan makanan lain, namun ke lima orang tadi kompak memesan bakso akhirnya aku ikut-ikutan dengan mereka.
Setelah kami membeli makanan, kami segera duduk di salah satu tempat duduk yang dekat dengan taman, akupun hanya mengikuti ke-lima teman baruku dalam diam dan memperhatikan taman itu. Aku baru sadar kalau bunga-bunga yang ada di sini bentuknya sudah berbeda dengan yang ada di tempat asalku. Karena terlalu asik melihat bunga aku sampai tidak memperhatikan pembicaraan mereka, sampai ada yang bertanya dan ku rasa pertanyaan itu di tujukan kepadaku.
“Eh, kamu anak baru ya?” tanya salah satu gadis yang belum aku kenal. ‘mungkin dia salah satu yang dipanggil Cit dan Ca’, pikirku.
“Kok kamu mau pindah kesini? Padahal kan banyak sekolah yang lebih bagus daripada sekolah ini?” tanya Margareth, saat aku hendak menjawab pertanyaan pertama tadi.
“Hm... itu, kebetulan rumah aku di dekat sini. Jadinya aku memilih masuk ke sekolah ini aja. Lagian bukannya semua sekolah itu sama aja?” tanyaku penasaran.
“Ya bedalah. Sekolah yang bagus itu yang jadi favorit, lha sekolah kita apaan? Sekolah kita jauh dari kata favorit. Tiap tahun juga ada aja murid sini yang gak lulus”, kata gadis yang tadi bertanya kepadaku.
“Ow... baru tau aku. Kalau ditempat asalku itu sama aja. Gak ada bedanya antara yang favorit dan yang bukan favorit”. Kataku sambil makan bakso.
“Hah?! Darimana kamu berasal emangnya?” kata gadis yang duduk disamping Margareth dengan nada menyindir.
Akupun terdiam mendengar pertanyaan dari teman yang belum aku kenal, bingung harus menjawab apa akhirnya aku hanya bisa tersenyum saja. Tidak mungkin rasamya kalau aku harus mengatakan yang sebenernya kepada mereka selain karena mereka tak mungkin mereka akan percaya, mereka juga kemungkinan besar akan menganggapku gila.
“Oh iya, katamu tadi yang duduk disebelahku itu namanya Hadrian, ya? Kok dia gak datang sih? Apa dia bolos?” tanyaku berurutan mencoba mengalihkan pembicaraan dari bahasan tentang tempat asalku. Karena kalau itu di teruskan aku akhirnya tak akan bisa memberikan alasan yang bisa di terima mereka.
“Seorang Hadrian bolos?” tanya gadis yang disamping Margareth tadi.
“Memangnya kalau bolos kenapa...? disekolahku yang dulu wajar kok kalau bolos sekolah. Aku juga terkadang bolos sekolah dan pergi ketempat kerja Puppy”. Kataku sambil mengenang kebiasaanku di Spica dulu.
“Puppy, kayak panggilan anjing aja”. Kata gadis yang bertanya pertama kali kepadaku saat berada di kantin dengan acuh.
Aku terkejut mendengar perkataannya, dan menjadi sedikit emosi namun aku berusaha tersenyum. Setidaknya aku tak mau mencari ribut di hari pertama sekolah. “Hehehe, aku biasa memanggil Papa-Mama dengan sebutan Puppy-Mummy”. Kataku mencari alasan yang aku rasa cocok.
“Cih, emangnya kamu kira Hadrian itu cowok model yang gimana? Dia bolos itu gak mungkin banget. Orang dia itu kutu buku”. Kata gadis yang disamping Margareth.
Entah mengapa aku semakin merasa kalau mereka berdua itu tidak suka kepadaku. Kata-katanya bahkan terdengar pedas di telinga. Entah itu hanya perasaanku saja atau memang seperti itu adanya. Dan seharusnya aku tak akan lupa untuk menceritakan kejadian itu ke buku harian yang aku bawa dari Spica. Ya, buku yang di gunakan untuk melaporkan penelitian kami tantang kehidupan di bumi.
“Oh iya, Vett. Kamu sudah ngisi formulir yang dikasih Bu Rani?” tanya Elvi antara mencoba mengalihkan pembicaraan atau memang benar-benar mengingaatkanku.
“Oh iya, aku lupa belum mengisinya. Aku tidak tau eskul disini apa aja”. Kataku bingung.
“Di sekolahmu yang dulu, kamu ikut eskul apa emangnya?” Tanya Christine.
“Aku ikut eskul penelitian bumi. Dulu di sekolahku itu eskul wajib yang harus kami ikuti”. Kataku mengingat kejadian di sekolahku yang lalu.
“Ngapain bumi di teliti? Di bumi kan gak ada apa-apa”. Kata gadis yang di samping Margareth itu.
“Farica, pedes banget sih. lo makan cabe berapa?” tanya Christine, yang dari tadi hanya diam mendengar pembicaraan dari kami.
“Apaan sih Chris”. Kata gadis yang di panggil dengan Farica tadi.
“Mungkin maksudnya itu club penelitian Luar Angkasa”, kata Elvi. “Kalau kamu mau ikut eskul sejenis itu mendingan gabung aja, dan tanya-tanya dulu soal kegiatan di sana. Tuh Hadrian ketua eskulnya”. Kata Elvi menjelaskan.
“Tapi ini kan sudah istirahat, apa gak apa-apa kalau aku belum menyerahkan formulir itu?” tanyaku.
“Santai aja, kan masih ada istirahat kedua. Nanti kamu serahin aja pas istirahat kedua”. Kata Christine sambil meminum es teh yang ada di depannya.
“Nah bener itu yang di bilang Christine. Lagi pula Hadrian habis ini juga masuk, jadi kamu bisa gabung ke eskulnya dia kalau maui. Lagi pula kalau gak salah eskulnya dia butuh anggota banget. Maklum itu kan baru tahun ini dibuat dan diresmikan jadi anggotanya juga baru sedikit banget”. Kata Elvi menjelaskan.
Akupun hanya mengangguk mengiyakan, walaupun aku belum tau apakah nantinya aku akan ikut eskul itu apa gak. Namun entah mengapa dalam hatiku, aku yakin banget kalau bakalan asik kalau ikut eskul itu. Tapi penelitian Luar Angkasa yang dimaksud apa benar kalau itu penelitian tentang sistem tata surya dan benda-benda langit selain bumi atau tidak aku tidak tahu. Kalau penelitian yang dimaksud benar seperti perkiraanku berarti itu sama saja dengan pekerjaan Puppy dulu.
‘Mungkin, kalau aku ikut penelitian ini akan semakin mudah bagiku untuk menyelesaikan misi menyelidiki bumi’, pikirku sambil tersenyum membayangkan kalau aku akan cepat menyelesaikan misi ini.
“Hei, Vett. Kenapa senyum-senyum sendiri?” tanya Margareth.
“Hehehe... gak apa-apa, aku cuma keinget kejadian waktu dirumah dulu”. Kataku mencoba mencari alasan, karena tak mungkin bagiku untuk memberitahikan alasan yang sebenarnya.
Dan kemudian kami makan dalam diam, tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut kami berenam. Mungkin rasa bakso yang kami santap sudah menghipnotis kami atau bahkan mungkin kami semua sedang asik dengan pikiran kami masing-masing. Hingga ketika kami sudah sampai di depan kelas aku begitu terkejut ada anak laki-laki yang duduk di tempat dudukku. Walaupun sebenarnya bukan murni ditempat dudukku, tapi tepat disebelahku atau tepat dimana tas warna biru tadi diletakkan.
“Vi, itu yang duduk disebelahku siapa?” tanyaku sambil berbisik, supaya tak di dengar anak-anak yang lain, yang asik berbicara di depan kelas.
“Oh... itu yang namanya Hadrian. Yang dibilang Ica kutu buku”. Kata Elvi menjelaskan, juga dengan nada yang sama rendahnya denganku.
“Vett, tuh Hadrian. Buruan kamu samperin dia dan tanyakan tentang eskulnya”. Kata Christine.
“Lho kalian gak ikut masuk?” tanyaku ketika mereka ikut gabung dengan anak-anak yang duduk di depan kelas.
“Gak, panas di kelas, enakan disini sejuk. Kamu buruann deh tanya-tanya sana”. Kata Elvi, akhirnya aku mau gak mau juga mengikuti kata-katanya.
Mulai masuk kelas aku merasakan sebagian anak-anak yang ada di kelas itu menatapku dengan heran dan sebagian yang lain mengacuhkanku. Sedangkan aku yang ditatap seperti itu akhirnya juga merasa risih, kalau boleh jujur aku memilih diabaikan saja daripada harus ditatap seperti ini. Entah kenapa ditatap seperti ini membuatku berpikir, apa aku tampak terlalu berbeda jika dibandingkan dengan manusia yang asli dari bumi? Tapi sepertinya aku sudah berpenampilan semirip mungkin seperti manusia normal lainnya, minus beberapa hal yang memang tak bisa ku rubah, seperti warna kulit dan kebiasaanku yang sering melamun. Sampai akhirnya aku berada di dekat tempat dudukku, anak yang di panggil Hadrian belum juga sadar keberadaanku, baru saat ketika aku duduk dia baru sadar.
“Kamu siapa?” tanyanya yang baru sadar akan keberadaanku.
“Kenalin aku Vetta”. Jawabku berusaha seramah mungkin.
“Anak baru?” tanyanya kemudian.
“Iya, aku baru pindah hari ini”. Jawabku singkat.
“Oh iya, aku Hadrian”, katanya ikut memperkenalkan diri. “Jadi kamu yang duduk disini?” tanyanya kemudian. Aku hanya mengangguk, mengiyakan pertanyaan dia.
“Oh iya, aku dengar kamu ketua eskul tentang penelitian-penelitian luar angkasa ya?” tanyaku berusaha memastikan info yang aku dengar.
“Hah? Eskul Astronomi maksud kamu?” tanyanya kemudian, seakan masih tak yakin dengan pertanyaanku yang tadi.
“Nah, iya itu mungkin”. Kataku akhirnya mengiyakan, walaupun masih tak yakin.
“Kalau itu iya, kamu mau gabung emangnya?” tanyanya dengan nada cueknya.
“Iya, aku mau gabung di eskul kamu. Kegiatannya kayak gimana ya itu nantinya?” tamyaku kemudian. Aku ingat harus menanyakan tentang kegiatan di eskul itu agar aku yakin benar eskul itu atau bukan yang aku inginkan.
“Ya, nanti dua kali dalam seminggu kita mengamati keadaan langit. Dan kalau ada fenomena-fenomena di langit, kita amati”.katanya menjelaskan.
“Fenomena di langit...? itu yang seperti apa?” tanyaku yang masih tak mengerti.
“Ya seperti kita mengamati gerhana bulan, gerhana matahari, penampakan planet-planet, atau rasi bintang”. Katanya menjelaskan.
“Gerhana matahari juga?” tanyaku penuh antusias. “Apa gak bahaya kalau kita melihat matahari secara langsung?” tanyaku kemudian.
“Kalau gerhana matahari jangan dilihat secara langsung”. Katanya menjelaskan.
“Kenapa? Apa nanti bisa membakar tubuh kita menjadi abu?” tanyaku kemudian, kalau itu benar, berarti kejadian itu tak hanya terjadi di Spica saja, tapi juga di bumi.
“Jadi abu...?! kata siapa bisa seperti itu?” jawabnya sambil membalikkan pertanyaanku. Aku yang mendengar pertanyaannya otomatis jadi bingung harus menjawab seperti apa.
“Eh... itu... kalau di tempatku katanya melihat matahari secara langsung bisa membakar tubuh kita menjadi abu. Bahkan kalau seperti itu ...”. jawabku yang kemudian harus terhenti, ketika aku sadar hampitr saja membocorkan rahasiaku sendiri.
“Bahkan kalau seperti itu,apa?” tanyanya yang masih penasaran.
“Ah gak apa-apa, lupakan aja. Tapi aku boleh kan gabung ke eskul itu?” tanyaku kemudian.
“Oh boleh-boleh aja, tapi kalau waktu ada pengamatan harus datang, dan biasanya pengamatannya itu diadakan malam hari. Jadi jangan banyak alasan buat gak datang”. Katanya kemudian. Aku hanya mengangguk dan tersenyum.
Bisa tidak tidur saat malam hari, dan justru ada kegiatan lain saat malam hari membuatku senang. Karena jujur saja, untuk tidur saat malam hari itu sangat sulit ku lakukan sampai saat ini.

“Hmm... dulu Mummy bagaimana ya menyesuaikan diri dengan pola hidup manusia di bumi?” tanyaku sendiri, dan sedikit menyesali kenapa dulu sebelum berangkat aku tidak tanya-tanya dulu kepada Mummy.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar