Pendaratan
kami di bumi terjadi sekitar tiga hari yang lalu, dan benar saja beberapa
penduduk bumi mulai heboh memberitakan soal benda asing yang mendarat di bumi.
Dalam hati aku sempat bertanya, kenapa peradaban di bumi masih jauh tertinggal
jika dibandingkan dengan kami? Padahal jika dipikir lagi, bumi tempat manusaia
tinggal itu wilayahnya luas dan sangat indah. Entahlah apa yang membuat
peradaban di bumi menjadi tertinggal.
Disini
aku tinggal di rumah kecil namun memeiliki halaman yang cukup luas dan sudah
banyak ditanami bunga-bunga. Mengingatkanku pada taman kota yang menjadi tempat
favoritku. Dengan begini aku bisa menghabiskan hari-hariku cukup dengan duduk
di depan rumah, tak perlu harus berjalan jauh. Matahari di bumi juga berbeda jauh
dengan di Spica, disini matahaari terasa hangat sedangkan di Spica sebaliknya.
Hal ini tentu membuatku betah berlama-lama berada dibawah sinar matahari. Namun
satu hal yang tak kusukai dari bumi, kami masuk sekolah selama enam hari dan
itupun sangat lama. Jika di Spica kami hanya masuk sekolah selama dua hari dan
sekolah hanya dua jam, disini kami berada di sekolah dari pagi – sore.
Entahlah, apa tujuan sebenarnya manusia menerapkan sistem ini.
Pagi
ini, hari pertama aku masuk di sekolah manusia. Rasanya sulit bagiku
membiasakan dengan pola tidur baruku. Aku yang terbiasa tidur saat pagi sampai
sore dan baru beraktifitas saat malam, disini aku harus melakukan yang
sebaliknya. Gara-gara hal itu, bisa dipastikan hari pertama aku masuk sekolah
sudah hampir telat. Selain karena aku bangun kesiangan aku juga belum hafal
jalan-jalan disini. Namun untung saja hari ini aku tidak tersesat.
“Hai,
kamu anak baru ya?” sapa gadis cantik saat melihatku berdiri di depan gerbang
sekolah.
“Eh,
i... Iya, aku baru pindah hari ini”. Kataku berusaha seramah mungkin. “Oh iya,
ruang kepala sekolah ada dimana ya?” tanyaku kemudian.
“Ayo
aku antar aja kesana sekalian. Biar cepat”, ajaknya dan akupun mengikuti kemana
dia pergi, “Oh iya, kenalin aku Elvi kamu siapa?” tanyanya kepadaku sambil
mengulurkan tanganya.
“Aku...
panggil aja aku Vetta”. Kataku sambil membalas uluran tangannya.
Setelah
kami melewati beberapa ruangan, akhirnya kami sampai di ruangan yang terdapat
tulisan ‘R. Kepala Sekolah’ dan disampingnya terdapat ruang guru.
“Nah,
ini ruang Kepala Sekolah. Aku duluan ya... sudah mau masuk” katanya, akupun
hanya membalas dengan anggukan dan kemudian dia pergi berlalu.
‘Ah,
semoga nanti aku berada di kelas yang sama dengan dia’, pikirku. Setidaknya
kalau beneran iya, aku sudah mendapatkan satu teman baru. Segera saja aku
mengetuk pintu kantor itu.
Setelah
dari ruang kepala sekolah dan menyerahkan berkas – berkas untuk melengkapi
persyaratan berada di sekolah baru ini, aku segera mengikuti seorang guru yang
sepertinya akan membawaku berada di ruangan yang akan menjadi kelasku nantinya.
Sungguh proses yang terlalu ribet, sambil berjalan tak hentinya aku
membandingkan berada di sekolah bumi dan sekolah dari tempatku berasal. Hingga tak
terasa aku sudah sampai di satu kelas yang nantinya akan menjadi kelasku, Bu
guru itu kemudian menyuruhku mengenalkan diri di depan kelas bisa ku rasakan
semua anak disini menatapku dengan tatapan yang sulit di artikan, karena
sepertinya memang antara penduduk Spica dan penduduk di bumi terdapat perbedaan
yang mencolok, yaitu tentang warna kulit kami. Penduduk Spica cenderung
berwarna putih pucat tidak seperti manusia di bumi, hal itu di karenakan kami
selama hidup menghindari matahari.
“Selamat
pagi, perkenalkan namaku Elvetta atau biasa di panggil Vetta. Aku baru pindah
ke sekolah ini hari ini karena alasan pribadi”. Kataku sambil berdiri di depan
kelas, aku bingung apa lagi yang harus aku katakan untuk memperkenalkan diri,
kemudian ku beranikan diri melihat ke arah guru tadi yang sedang duduk di kursi
kebesarannya.
“Ya
sudah, silahkan duduk kalau begitu”. Katanya lembut, aku hanya mengangguk
sambil tersenyum. Baru saja aku hendak melangkah menuju bangku kosong yang ada
di belakang Bu guru itu memanggilku lagi.
“Vetta,
jam istirahat nanti serahin ini ke Ibu ya”. Kata wanita yang ternyata adalah
wali kelasku sambil menyerahkan selembar kertas kearahku.
“Ini
apa Bu?” tanyaku yang masih tak mengerti.
“Ini
formulir untuk mengetahui nanti eskul apa yang mau kamu ikuti”. Kata guru itu
menjelaskan, aku hanya mengangguk saja walaupun aku masih tak mengerti
maksudnya.
Akupun
segera menuju ke bangku kosong yang berada di deretan paling terakhir.
‘Heeehh....?!
ada tas disini bukankah itu artinya aku tak akan duduk sendirian?’, pikirku
namun tak terlalu aku hiraukan, sambil duduk dan memulai aktivitas belajarku di
bumi untuk pertama kalinya.
“Ssstt...
Ssstt... Vett”, panggil sebuah suara dari depanku saat aku sedang asik-asiknya
melamun.
“I...
iya ada apa?” jawabku yang masih dalam keadaan terkejut. “Lho bukannya kamu
Elvi ya? Aku baru sadar kalau kita sekelas?” tanyaku kemudian, begitu sadar
kalau yang tadi memanggilku adalah Elvi, teman pertamaku yang ku temui di depan
sekolah tadi.
“Kamu
sih, dari tadi asik melamun aja. Oh ya kenalin aku Christine”. Kata cewek yang
duduk di sebelah Elvi.
“Hehehe...
maaf, aku soalnya masih mengantuk. Oh iya, aku Vetta”. Kataku yang juga
mengenalkan diri. ‘Ah, sepertinya manusia di bumi itu ramah semua. Kalau benar
seperti itu, mungkin yang di bilang Mummy kalau aku bakalan betah disini itu
bukan mustahil’ pikirku dalam hati.
“Oh
iya, yang duduk disebelahku itu siapa sih? Tasnya ada tapi manusianya tidak
ada?” tanyaku yang masih penasaran dengan siapa yang akan berada di sebelahku.
“Ow..
dia Hadrian. Tapi kamu harus sabar ya kalau di sebelah dia”. Kata Christian
menjelaskan.
Jawaban
dari Christine sama sekali tak membuatku puas, justru semakin penasaran tentang
sosok Hadrian yang dibilangnya. Baru saja aku hendak menanyakannya lebih
lanjut, ada seorang gadis cantik yang menghampiri kami atau lebih tepatnya
menghampiri dua orang di depanku.
“Hai,
kenalin aku Vetta. Kamu siapa?” tanyaku kepada gadis yang baru saja menghampiri
kami sambil mengulurkan tangan.
“Margareth”.
Jawabnya singkat tanpa berniat membalas uluran tanganku.
Aku
yang melihat kalau gadis yang bernama Margareth tak akan membalas uluran
tanganku, akhirnya menarik kembali. Apa aku melakukan kesalahan saat
memperkenalkan diri? Sepertinya tidak. Setelah tiba di bumi, aku sempat membaca
buku tentang cara-cara berkenalan di bumi dan caranya itu sama seperti yang aku
lakukan tadi. ‘Apa manusia di bumi memiliki karakter yang berbeda – beda, ya?’
pikirku.
“Vett.
Ayo ikut kami ke kantin”. Ajak Elvi.
“Eh,
I... iya ayo”. Jawabku.
“Kamu
melamun lagi, Vett”. Kata Elvi kemudian. Aku hanya tersenyum kemudian
mengikutinya pergi ke tempat yang di namakan dengan kantin. ‘Apakah kantin
disini sama dengan di Spica, ya?’ pikirku yang masih terlalu penasaran dengan
kehidupan yang di bumi.
“Hati
– hati kesambet lho melamun mulu”, kata Margareth. “ Cit, Ca. Ke kantin gak?”
tanya Margareth berdiri di dekat pintu.
“Ayo!!”
jawab gadis yang duduk tak jauh dari pintu. Sekilas aku mengira mereka kembar,
tapi ternyata tidak. Hanya model rambut dan aksesorisnya aja yang sama.
Ternyata
letak tempat yang disebut dengan kantin itu tak begitu jauh dari kelasku
berada. Masuk ke kantin aku baru tau kalau yang disebut dengan kantin adalah
tempat jual berbagai macam makanan sama seperti di Spica. Akupun dengan iseng
mencoba membeli makanan yang di sebut bakso. ‘semoga rasanya sama dengan bakso
di tempatku berasal’, pikirku. Sebenarnya aku berniat memesan makanan lain,
namun ke lima orang tadi kompak memesan bakso akhirnya aku ikut-ikutan dengan
mereka.
Setelah
kami membeli makanan, kami segera duduk di salah satu tempat duduk yang dekat
dengan taman, akupun hanya mengikuti ke-lima teman baruku dalam diam dan
memperhatikan taman itu. Aku baru sadar kalau bunga-bunga yang ada di sini
bentuknya sudah berbeda dengan yang ada di tempat asalku. Karena terlalu asik
melihat bunga aku sampai tidak memperhatikan pembicaraan mereka, sampai ada
yang bertanya dan ku rasa pertanyaan itu di tujukan kepadaku.
“Eh,
kamu anak baru ya?” tanya salah satu gadis yang belum aku kenal. ‘mungkin dia
salah satu yang dipanggil Cit dan Ca’, pikirku.
“Kok
kamu mau pindah kesini? Padahal kan banyak sekolah yang lebih bagus daripada
sekolah ini?” tanya Margareth, saat aku hendak menjawab pertanyaan pertama
tadi.
“Hm...
itu, kebetulan rumah aku di dekat sini. Jadinya aku memilih masuk ke sekolah
ini aja. Lagian bukannya semua sekolah itu sama aja?” tanyaku penasaran.
“Ya
bedalah. Sekolah yang bagus itu yang jadi favorit, lha sekolah kita apaan?
Sekolah kita jauh dari kata favorit. Tiap tahun juga ada aja murid sini yang
gak lulus”, kata gadis yang tadi bertanya kepadaku.
“Ow...
baru tau aku. Kalau ditempat asalku itu sama aja. Gak ada bedanya antara yang
favorit dan yang bukan favorit”. Kataku sambil makan bakso.
“Hah?!
Darimana kamu berasal emangnya?” kata gadis yang duduk disamping Margareth
dengan nada menyindir.
Akupun
terdiam mendengar pertanyaan dari teman yang belum aku kenal, bingung harus
menjawab apa akhirnya aku hanya bisa tersenyum saja. Tidak mungkin rasamya
kalau aku harus mengatakan yang sebenernya kepada mereka selain karena mereka
tak mungkin mereka akan percaya, mereka juga kemungkinan besar akan
menganggapku gila.
“Oh
iya, katamu tadi yang duduk disebelahku itu namanya Hadrian, ya? Kok dia gak
datang sih? Apa dia bolos?” tanyaku berurutan mencoba mengalihkan pembicaraan
dari bahasan tentang tempat asalku. Karena kalau itu di teruskan aku akhirnya
tak akan bisa memberikan alasan yang bisa di terima mereka.
“Seorang
Hadrian bolos?” tanya gadis yang disamping Margareth tadi.
“Memangnya
kalau bolos kenapa...? disekolahku yang dulu wajar kok kalau bolos sekolah. Aku
juga terkadang bolos sekolah dan pergi ketempat kerja Puppy”. Kataku sambil
mengenang kebiasaanku di Spica dulu.
“Puppy,
kayak panggilan anjing aja”. Kata gadis yang bertanya pertama kali kepadaku
saat berada di kantin dengan acuh.
Aku
terkejut mendengar perkataannya, dan menjadi sedikit emosi namun aku berusaha
tersenyum. Setidaknya aku tak mau mencari ribut di hari pertama sekolah. “Hehehe,
aku biasa memanggil Papa-Mama dengan sebutan Puppy-Mummy”. Kataku mencari
alasan yang aku rasa cocok.
“Cih,
emangnya kamu kira Hadrian itu cowok model yang gimana? Dia bolos itu gak
mungkin banget. Orang dia itu kutu buku”. Kata gadis yang disamping Margareth.
Entah
mengapa aku semakin merasa kalau mereka berdua itu tidak suka kepadaku.
Kata-katanya bahkan terdengar pedas di telinga. Entah itu hanya perasaanku saja
atau memang seperti itu adanya. Dan seharusnya aku tak akan lupa untuk
menceritakan kejadian itu ke buku harian yang aku bawa dari Spica. Ya, buku
yang di gunakan untuk melaporkan penelitian kami tantang kehidupan di bumi.
“Oh
iya, Vett. Kamu sudah ngisi formulir yang dikasih Bu Rani?” tanya Elvi antara
mencoba mengalihkan pembicaraan atau memang benar-benar mengingaatkanku.
“Oh
iya, aku lupa belum mengisinya. Aku tidak tau eskul disini apa aja”. Kataku
bingung.
“Di
sekolahmu yang dulu, kamu ikut eskul apa emangnya?” Tanya Christine.
“Aku
ikut eskul penelitian bumi. Dulu di sekolahku itu eskul wajib yang harus kami
ikuti”. Kataku mengingat kejadian di sekolahku yang lalu.
“Ngapain
bumi di teliti? Di bumi kan gak ada apa-apa”. Kata gadis yang di samping
Margareth itu.
“Farica,
pedes banget sih. lo makan cabe berapa?” tanya Christine, yang dari tadi hanya
diam mendengar pembicaraan dari kami.
“Apaan
sih Chris”. Kata gadis yang di panggil dengan Farica tadi.
“Mungkin
maksudnya itu club penelitian Luar Angkasa”, kata Elvi. “Kalau kamu mau ikut
eskul sejenis itu mendingan gabung aja, dan tanya-tanya dulu soal kegiatan di
sana. Tuh Hadrian ketua eskulnya”. Kata Elvi menjelaskan.
“Tapi
ini kan sudah istirahat, apa gak apa-apa kalau aku belum menyerahkan formulir itu?”
tanyaku.
“Santai
aja, kan masih ada istirahat kedua. Nanti kamu serahin aja pas istirahat
kedua”. Kata Christine sambil meminum es teh yang ada di depannya.
“Nah
bener itu yang di bilang Christine. Lagi pula Hadrian habis ini juga masuk,
jadi kamu bisa gabung ke eskulnya dia kalau maui. Lagi pula kalau gak salah
eskulnya dia butuh anggota banget. Maklum itu kan baru tahun ini dibuat dan
diresmikan jadi anggotanya juga baru sedikit banget”. Kata Elvi menjelaskan.
Akupun
hanya mengangguk mengiyakan, walaupun aku belum tau apakah nantinya aku akan
ikut eskul itu apa gak. Namun entah mengapa dalam hatiku, aku yakin banget
kalau bakalan asik kalau ikut eskul itu. Tapi penelitian Luar Angkasa yang
dimaksud apa benar kalau itu penelitian tentang sistem tata surya dan
benda-benda langit selain bumi atau tidak aku tidak tahu. Kalau penelitian yang
dimaksud benar seperti perkiraanku berarti itu sama saja dengan pekerjaan Puppy
dulu.
‘Mungkin,
kalau aku ikut penelitian ini akan semakin mudah bagiku untuk menyelesaikan
misi menyelidiki bumi’, pikirku sambil tersenyum membayangkan kalau aku akan
cepat menyelesaikan misi ini.
“Hei,
Vett. Kenapa senyum-senyum sendiri?” tanya Margareth.
“Hehehe...
gak apa-apa, aku cuma keinget kejadian waktu dirumah dulu”. Kataku mencoba
mencari alasan, karena tak mungkin bagiku untuk memberitahikan alasan yang
sebenarnya.
Dan
kemudian kami makan dalam diam, tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut
kami berenam. Mungkin rasa bakso yang kami santap sudah menghipnotis kami atau
bahkan mungkin kami semua sedang asik dengan pikiran kami masing-masing. Hingga
ketika kami sudah sampai di depan kelas aku begitu terkejut ada anak laki-laki
yang duduk di tempat dudukku. Walaupun sebenarnya bukan murni ditempat dudukku,
tapi tepat disebelahku atau tepat dimana tas warna biru tadi diletakkan.
“Vi,
itu yang duduk disebelahku siapa?” tanyaku sambil berbisik, supaya tak di
dengar anak-anak yang lain, yang asik berbicara di depan kelas.
“Oh...
itu yang namanya Hadrian. Yang dibilang Ica kutu buku”. Kata Elvi menjelaskan,
juga dengan nada yang sama rendahnya denganku.
“Vett,
tuh Hadrian. Buruan kamu samperin dia dan tanyakan tentang eskulnya”. Kata Christine.
“Lho
kalian gak ikut masuk?” tanyaku ketika mereka ikut gabung dengan anak-anak yang
duduk di depan kelas.
“Gak,
panas di kelas, enakan disini sejuk. Kamu buruann deh tanya-tanya sana”. Kata
Elvi, akhirnya aku mau gak mau juga mengikuti kata-katanya.
Mulai
masuk kelas aku merasakan sebagian anak-anak yang ada di kelas itu menatapku
dengan heran dan sebagian yang lain mengacuhkanku. Sedangkan aku yang ditatap
seperti itu akhirnya juga merasa risih, kalau boleh jujur aku memilih diabaikan
saja daripada harus ditatap seperti ini. Entah kenapa ditatap seperti ini
membuatku berpikir, apa aku tampak terlalu berbeda jika dibandingkan dengan
manusia yang asli dari bumi? Tapi sepertinya aku sudah berpenampilan semirip
mungkin seperti manusia normal lainnya, minus beberapa hal yang memang tak bisa
ku rubah, seperti warna kulit dan kebiasaanku yang sering melamun. Sampai akhirnya
aku berada di dekat tempat dudukku, anak yang di panggil Hadrian belum juga
sadar keberadaanku, baru saat ketika aku duduk dia baru sadar.
“Kamu
siapa?” tanyanya yang baru sadar akan keberadaanku.
“Kenalin
aku Vetta”. Jawabku berusaha seramah mungkin.
“Anak
baru?” tanyanya kemudian.
“Iya,
aku baru pindah hari ini”. Jawabku singkat.
“Oh
iya, aku Hadrian”, katanya ikut memperkenalkan diri. “Jadi kamu yang duduk
disini?” tanyanya kemudian. Aku hanya mengangguk, mengiyakan pertanyaan dia.
“Oh
iya, aku dengar kamu ketua eskul tentang penelitian-penelitian luar angkasa
ya?” tanyaku berusaha memastikan info yang aku dengar.
“Hah?
Eskul Astronomi maksud kamu?” tanyanya kemudian, seakan masih tak yakin dengan
pertanyaanku yang tadi.
“Nah,
iya itu mungkin”. Kataku akhirnya mengiyakan, walaupun masih tak yakin.
“Kalau
itu iya, kamu mau gabung emangnya?” tanyanya dengan nada cueknya.
“Iya,
aku mau gabung di eskul kamu. Kegiatannya kayak gimana ya itu nantinya?”
tamyaku kemudian. Aku ingat harus menanyakan tentang kegiatan di eskul itu agar
aku yakin benar eskul itu atau bukan yang aku inginkan.
“Ya,
nanti dua kali dalam seminggu kita mengamati keadaan langit. Dan kalau ada
fenomena-fenomena di langit, kita amati”.katanya menjelaskan.
“Fenomena
di langit...? itu yang seperti apa?” tanyaku yang masih tak mengerti.
“Ya
seperti kita mengamati gerhana bulan, gerhana matahari, penampakan
planet-planet, atau rasi bintang”. Katanya menjelaskan.
“Gerhana
matahari juga?” tanyaku penuh antusias. “Apa gak bahaya kalau kita melihat
matahari secara langsung?” tanyaku kemudian.
“Kalau
gerhana matahari jangan dilihat secara langsung”. Katanya menjelaskan.
“Kenapa?
Apa nanti bisa membakar tubuh kita menjadi abu?” tanyaku kemudian, kalau itu
benar, berarti kejadian itu tak hanya terjadi di Spica saja, tapi juga di bumi.
“Jadi
abu...?! kata siapa bisa seperti itu?” jawabnya sambil membalikkan
pertanyaanku. Aku yang mendengar pertanyaannya otomatis jadi bingung harus
menjawab seperti apa.
“Eh...
itu... kalau di tempatku katanya melihat matahari secara langsung bisa membakar
tubuh kita menjadi abu. Bahkan kalau seperti itu ...”. jawabku yang kemudian
harus terhenti, ketika aku sadar hampitr saja membocorkan rahasiaku sendiri.
“Bahkan
kalau seperti itu,apa?” tanyanya yang masih penasaran.
“Ah
gak apa-apa, lupakan aja. Tapi aku boleh kan gabung ke eskul itu?” tanyaku
kemudian.
“Oh
boleh-boleh aja, tapi kalau waktu ada pengamatan harus datang, dan biasanya
pengamatannya itu diadakan malam hari. Jadi jangan banyak alasan buat gak
datang”. Katanya kemudian. Aku hanya mengangguk dan tersenyum.
Bisa
tidak tidur saat malam hari, dan justru ada kegiatan lain saat malam hari
membuatku senang. Karena jujur saja, untuk tidur saat malam hari itu sangat
sulit ku lakukan sampai saat ini.
“Hmm...
dulu Mummy bagaimana ya menyesuaikan diri dengan pola hidup manusia di bumi?”
tanyaku sendiri, dan sedikit menyesali kenapa dulu sebelum berangkat aku tidak
tanya-tanya dulu kepada Mummy.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar