Hari
ini, kali kedua aku masuk sekolah dan lagi-lagi hari ini aku hampir telat.
Selain karena menyelesaikan urusan pekerjaan, aku juga tadi balik lagi kerumah
mengambil buku catatan. Aku berpikir jika semuanya kejadian aku catat saat
malam hari mungkin akan ada yang terlewatkan, selain itu waktu istirahatku akan
semakin berkurang nantinya.
“Vetta,
lagi-lagi kamu telat”. Kata Elvi ketika melihatku masuk ke kelas.
“Hehehe,
tadi aku kelupaan sesuatu dirumah. Makanya tadi mau gak mau balik lagi”. Kataku
menjelaskan sambil berjalan ke tempat dudukku.
Lagi-lagi
ketika menuju tempat dudukku, aku melihat Hadrian sudah disana dan sambil
membaca buku. ‘Apa dia tidak pernah bosan ya membaca buku terus?’ tanyaku dalam
hati. Aku memang dulu sempat suka membaca buku, namun itu hanya buku cerita
yang mempunyai banyak gambar, tidak seperti buku pelajaran atau buku yang
sering di baca oleh Hadrian dimana hanya ada tulisan di semua halamannya,
bahkan gambarnya hanya terletak di sampul buku.
“Hai”.
Sapaku kepadanya dan kemudian duduk di temapt dudukku.
“Baru
datang?”, tanyanya ketika baru melihatku, aku hanya mengangguk mengiyakan.
“Katanya rumahmu dekat, kok jam segini baru sampe sekolah?” tanyanya kemudian.
“Ehm...
tadi aku ada urusan sebentar terus baru ingat kalau ada buku yang ketinggalan
di rumah, akhirnya mau gak mau aku pulang buat ngambil buku itu”. Kataku pada
akhirnya.
Tepat
ketka aku ingin mengatakan sesuatu guru sudah datang sehingga aku harus menunda
pembicaraanku nanti. namun sampai jam pelajaran kedua sudah akan berakhir tak
ada satupun dari kami yang memulai pembicaraan, padahal di jam kedua guru tidak
datang. Akupun juga lupa apa yang ingin aku katakan kepadanya.
“Vett,
nanti ikut ke kantin?” tanya Elvi saat sebentar lagi waktu istirahat tiba.
“Hmm...
baiklah, kebetulan aku juga ingin mencoba menu baru di kantin”. Kataku
menyetujui ajakan dari Elvi.
“Memangnya
apa yang ingin kau coba?” kali ini Christine yang bertanya.
“Hmm...
entahlah, mungkin sate”. Kataku sambil mencoba mengingat-ingat apa saja menu
yang ada di kantin. Namun yang ada di ingatanku hanya ada ‘sate’.
Dua
orang yang ada di depanku terkejut mendengar jawabanku tadi, namun sepertinya
bukan cuma Elvi dan Christine saja yang terkejut Hadrian yang ada di sampingku
juga terkejut dengan apa yang aku katakan. ‘Mungkinkah aku salah bicara?’
pikirku ketika melihat reaksi tiga orang tersebut.
“Apa
kau gila, Vett? Sejak kapan di kantin ada sate?” kali ini giliran Hadrian yang
bertanya seperti itu.
Aku
yang masih tidak mengerti seperti apa makanan yang di sebut sate hanya bisa
bertanya dengan polosnya. “Memangnya makanan seperti apa sate itu?” tanyaku.
“Sebenarnya
kau berasal dari belahan bumi bagian mana Vett sampai tidak tahu makanan yang
di sebut sate, padahal makanan itu sudah terkenal sampai di luar negeri”. Kali
ini Hadrian yang mengomentari pertanyaanku.
Aku
hanya bengong mendengar kata-kata dari Hadrian, memangnya seperti apa makanan
yang di sebut sate itu.
“Berhenti
bercanda Vett, semua orang tau apa itu sate. Bahkan adikku yang masih kelas 2
Sekolah Dasar saja sudah tau apa itu sate”. Kata Christine menimpali. Aku
semakin penasaran seperti apa sate itu. Namun sepertinya akan semakin konyol
kalau aku bersikap tidak tahu apa yang di namakan sate itu.
“Tumben
kamu banyak bicara Had”. Kata Elvi yang dari tadi lebih banyak diam.
“Ah,
biasa aja”. Kata Hadrian singkat sambil kembali melanjutkan membaca buku.
“Iya
benar Vi, dengan Vetta Hadrian tak lagi pelit suara”. Kata Christine sambil
tersenyum, aku yang tak mengerti maksud dari perkataannya hanya diam saja.
Namun sempat ku lihat Hadrian beberapa kali salah tingkah setelah mendengar
perkataan temannya itu.
“Hai,
ke kantin gak?” tanya Farica yang menghampiri meja kami.
“Iya
dong, kalian ikut gak?” tanya Elvi sambil menolah ke arahku dan Hadrian.
“Ikut”.
Kataku sambil memasukkan buku-bukuku yang berserakan di atas meja. “Kamu ikut
gak Had?” tanyaku kepada Hadrian.
“Gak
usah makasih”. Jawab Hadrian sambil tetap membaca buku.
“Ya
udah. Duluan ya”. Kataku sambil berlalu bersama teman-teman pergi ke kantin.
“Kamu
gak salah Vett ngajak Hadrian ke kantin?” tanya Farica saat kami berjalan ke
kantin.
“Memangnya
kenapa?” tanyaku balik. ‘Bukankah Hadrian itu juga manusia yang bisa merasakan
lapar dan haus’ pikirku.
“Kalau
Hadrian ikut ke kantin itu momen langka Vett, bahkan aku berani bertaruh kalau
sampai Hadrian mau ikut makan di kantin bersamamu aku akan mentraktirmu makan
di kantin selama satu minggu”. Kata Citra yang berjalan di depanku dan Farica.
“Lagi
pula kalo Hadrian ikut ke kantin bisa-bisa suasana bakalan hening kayak
kuburan”. Kali ini Margareth yang berbicara.
Pembicaraan
kami terhenti ketika kami memasuki kantin,
pandanganku jatuh pada beraneka kue yang ada di rak. Karena siang ini
aku malas untuk makan nasi akhirnya aku putuskan untuk memesan blackforest dan
cokelat panas, aku penasaran bagaimana rasanya samakah dengan yang ada di Spica
atau bebeda.
“Vett,
kamu jadi ikut eskul astronomi?” tanya Margareth sambil menyantap bakso.
“Iya
jadi”. Kataku sambil memakan kue yang aku pesan.
“Terus
kepalamu bagaimana, Vett?” tanya Elvi.
Aku
reflek memegang kepala bagian belakang. “Gak, gak apa-apa kok Vi. Sudah gak terasa
sakit lagi”. Kataku sambil tersenyum.
“Oh
iya, kemarin kamu pingsan ya di lapangan basket?” tanya Farica, aku hanya
mengangguk malu mendengar pertanyaannya.
“Bagaimana
ceritanya Vett?” tanyanya selanjutnya.
“Entahlah
Ca, aku gak begitu ingat. Seingatku aku sedang berjalan kembali ke kelas
melewati lapangan basket terus tiba-tiba kepalaku kena lemparan bola...
terus... aku tiba-tiba sudah ada di uks dan ada Elvi di sampingku”. Kataku
sambil mengingat-ingat kejadian kemarin.
Pembicaraan
kami berlanjut sampai jam istirahat berakhir, walaupun aku lebih banyak
mendengar pembicaraan mereka dari pada ikut bergabung dalam obrolan. Namun di
hari kedua aku bersekolah disini aku merasa kalau penilaianku kemarin tentang
Farica dan Citra itu salah, ternyata mereka tak seburuk pemikiranku. Melihat sifat
mereka yang seperti itu, aku yakin kalau aku bisa bersahabat baik dengan mereka
berlima. Hadrian, mengingatnya aku jadi kembali tak yakin bisa dekat dengannya
jangankan untuk dekat berteman dan bisa bercanda selayaknya aku dengan Elvi
atau Christine rasanya tak mungkin.
“Oh
iya, besok malam jangan lupa datang ya”. Katanya ketika kami semua sedang
siap-siap untuk pulang.
“Besok
malam ada acara apa emangnya?”, tanyaku masih tak mengerti.
“Kegiatan
eskul, kemarin katanya mau gabung ke eskul. Niat gak sih?” tanyanyakemudian.
“Ah
itu, aku hampir lupa. Niat-niat kok. Besok jam 7 malam kan?” kataku akhirnya,
dia hanya mengangguk saja.
Tanpa
memperdulikan jawabannya akupun akhirnya pergi menuju tempat kerjaku ini. Aku
bersyukur Bibi pemilik taman itu tadi bersedia memperkerjakanku padahal aku
belum mempunyai sesuatu yang mereka sebut sebagai ijazah SMA, dan karena
statusku sebagai pelajar. Disana aku akan mendapatkan gaji Rp 500.000,- dan
baru mendapatkan bonus ketika aku bisa berhasil menjual bunga, juga ketika aku
mendapatkan panggilan menghias taman. Aku tak tahu apa uang segitu disini
termasuk besar atau kecil, karena ketika di Spica kami tidak pernah kekurangan
uang.
“Nak
Vetta kok belum pulang? toko sudah tutup dari tadi.” tanya bibi yang punya toko
bunga tempatku bekerja.
“Ah
iya Bi, nanggung ini masih ada pesanan buat merangkai bunga. Niatnya mau Vetta
selesain malam ini kalau boleh”. Kataku sambil memperlihatkan rangkaian bunga
yang baru 50% selesai.
“Oh
gak apa-apa kalau mau kamu seperti itu. Nanti kalau sudah kamu kunci semua
pintunya aja sama matiin lampunya. Ini kuncinya, takutnya nanti kalau Bibi
sudah ketiduran nunggu kamu”. Kata Bibi sambil memberikan kunci toko itu
kepadaku.
“Ah
iya, Bi... makasih ya”. Kataku akhirnya.
Dan
jadilah aku malam ini lembur membuat rangkaian bunga. Aku tertantang untuk
menyelesaikan rangkaian bunga, karena dari sana aku bisa dapat bonus yang
lumayan. Menyelesaikan rangkaian akan dapat bonus Rp 10.000,- per rangkaian.
“Akhirnya
selesai juga”. Kataku sendiri sambil melihat beberapa rangkaian yang sudah ku
selesaikan. “Lumayan ada 10 rangkaian, berarti aku dapat bonus banyak besok”.
Kataku kemudian. Setelah membereskan meja tempatku merangkai, akhirnya aku
pulang kerumah.
Malam
hari di bumi sangat sepi, berbeda dengan di Spica. Bahkan disini banyak
rumah-rumah yang sudah mematikan lampunya. Bahkan bisa ku lihat kalau hanya aku
satu-satunya perempuan yang berjalan-jalan di jam segini.
“Hi
Vett, mau kemana keluar jam segini?” tanya Hadrian saat melihatku.
“Ah,
ini aku habis beli nasi goreng”. Kataku sambil menunjukkan bungkusan kepada
Hadrian.
“Ayo
aku anter pulang, gak baik cewek pulang sendirian di jam segini”. Katanya
menawari. Aku hanya mengangguk mendengar tawaran darinya, karena jujur badanku
sudah pegel semua.
“Disini
jam segini masih sepi, ya?” tanyaku kepada Hadrian yang berjalan di sampingku.
“Memang,
apa kamu lupa ini sudah jam berapa Vett?” tanyanya sambil melihat kearahku.
Aku
hanya tersenyum mendengar pertanyaannya. “Oh iya, kamu habis darimana?” tanyaku
sambil melihat kearahnya. Berjalan bersama dengannya membuatku sadar bahwa
sebenarnya Hadrian itu sangat tinggi, bahkan tinggiku hanya sampai se dadanya.
“Aku
mencari abang jualan sate”. Katanya sambil tersenyum melirikku. “Namun sayang
orangnya gak jualan”. Katanya sambil tersenyum ketika melihat ekspresiku.
“Ah
kau. Gara-gara kamu aku jadi ingat kalau aku ingin beli sate tapi gara-gara
keasikan kerja aku jadi lupa”. Kataku sambil mengomel.
“Kamu
kerja dimana emangnya?” tanya Hadrian terkejut mendengar perkataanku.
“Di
toko bunga Florentika. Itu yang letaknya dekat sekolahan”. Kataku sambil
menunjuk ke belakang.
“Ya
udah, besok pas eskul jangan makan dulu ya... nanti aku traktir sate”. Katanya kemudian.
“Yang
bener nih?” tanyaku penasaran.
“Iya”.
Katanya mengangguk. Aku hanya tersenyum senang mendengar janjinya, sambil
berharap kalau Hadrian tidak akan mengingkari janjinya.
“Tenang
saja aku tak akan bohong”. Katanya yang seolah mengerti isi pikiranku.
“Lho
kamu tinggal disini?” tanyanya ketika kami sampai di depan rumah.
“Iya,
aku baru pindah kesini”. Kataku menjelaskan.
“Ow,
pantesan aku gak pernah lihat. Rumahku lumayan dekat dari sini”. Katanya
memberitahuku, aku hanya mengangguk mendengar jawabannya.
“Aku kira kamu tinggal di kos-kosan”. Katanya selanjutnya
sambil melihat kearah rumahku.
Aku
hanya tersenyum mendengar perkataannya. “Hehehe... aku disuruh menempati rumah
ini sama Mummy dan Puppy”. Kataku sambil mencoba mencari alasan.
“Mummy,
Puppy? Ahh... panggilan untuk kedua orang tuamu ya?” tanyanya sambil tesenyum,
akupun segera mengangguk.
“Oh
iya, rahasiakan kalau aku bekerja dari yang lain ya? Soalnya aku dengar anak
SMA tidak boleh bekerja”. Kataku sambil memelas.
“Tenang
saja, aku gak ember kok”. Katanya sambil berlalu pergi. Akupun segera berlari
masuk ke dalam rumah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar