Kamis, 08 September 2016

CINTA BUNGA MAWAR

Hari ini seperti biasa rumah terasa sepi, hanya ada Mbok Ina yang sedang memasak menyiapkan makan malam, sedangkan Raisa dan Pak Darmin bercengkrama di teras samping yang letaknya tak begitu jauh dengan dapur. Aku yang melihat mereka sambil menaiki tangga merasakan sedikit iri.
-0-

“Ayame, apa yang kau lakukan disana?” Tanya seseorang yang entah darimana datangnya.
“Ah, Kamu Gaby aku kira siapa.” Jawab gadis cantik yang dipanggil dengan Ayame tadi.
“Lanjutkan besok saja Ayame, sekarang sudah hampir malam. Terlalu bahaya jika malam – malam kita berada disini. Apa kamu lupa bagaimana bahayanya jika tetap disini saat sudah malam”. Ajak Gaby, yang kemudian hanya di jawab dengan anggukan kepala saja dari Ayame.
Ayame dan Gaby tinggal di desa yang letaknya tak jauh dari hutan tempat Ayame biasanya menghabiskan waktu merawat bunga – bunga liar itu. Dan tentunya cerita – cerita seram yang berkaitan dengan hutan itu sudah diketahui Ayame dengan baik.
“Ah, Sebentar Gaby aku melupakan sesuatu. Tunggu disini sebentar ya, aku akan kembali kesana mengambilnya. Aku janji tak akan lama.” Kata Ayame sambil berbalik.
Gaby yang melihat tingkah saudara kembarnya itu hanya bisa mendesah pasrah, dia tentu sudah hapal dengan kebiasaan unik Ayame. Dan benar, tak lama dari dalam hutan Ayame muncul dengan membawa setangkai mawar putih sambil tersenyum lebar kearah Gaby.
“Ay, apa yang ada di pundak kamu itu?” Tanya Gaby penasaran.
“Oh.. ini aku menemukannya di antara bunga – bunga tadi. Tapi karena tadi aku lihat dia sendirian disana aku jadi tak tega dan mengambilnya. Apalagi sepertinya nanti malam akan hujan badai, aku tak tega kalau meninggalkannya sendirian di tengah hutan.” Kata Ayame sambil sesekali mengelus kepala hewan yang berada di pundaknya itu..
“Ayame, apa yang ada di pundakmu itu?” tanya Rio ketika mereka sampai di rumah.
“Entah;ah, Yo. Aku juga gak tau apa namanya itu. Tadi aku menemukannya di dalam hutan.” Jawab Ayame sambil menunjukkan hewan itu kearah Rio.
“Seperti Tupai ya.” Kata Abigail yang sibuk mengamati hewan yang dibawa Ayame
“Nanda, apa kamu lihat Nenek?” Tanya Gaby.
“Nenek sedang pergi ke rumah Kepala Desa dengan Rendi tadi.” Kata Nanda sambil ikut berkerumun melihat hewan baru yang dibawa Ayame.
“Aaaahhh!!!” teriak salah satu dari anak – anak itu.
“Kenapa Mis?” Tanya Abigail yang berdiri di samping anak tadi.
“Ti... tidak Ab, aku hanya terkejut. Ayame bilang dia menemukan hewan itu di dalam hutan. Lalu apakah kalian lupa cerita – cerita seram dari nenek tentang hutan itu? Aku hanya berfikir, mungkinkah dia itu siluman yang menjelma menjadi tupai?” Jawab gadis yang dipanggil Mis tadi sambil berjingkat kebelakang, dari wajahnya terlihat jelas kalau dia sedang ketakutan.
“Ah, tidak mungkin mungkin saja dia ini tupai jenis baru Misya.” Kata Ayame sambil mengelus kepala tupai itu.
“Iya, tupai jenis baru dengan bulu berwarna putih salju, ekor dua dan mata yang berbeda warna.” Kata Rendi tiba – tiba yang muncul di belakang Ayame.
“Ren, nenek dimana?” Tanya Gaby begitu melihat Rendi.
“Nenek di dalam menyiapkan makan malam dengan Nana.” Jawab Rendi.
Begitu mendengar jawaban Rendi, Gaby langsung menarik tangan adik kembarnya itu untuk menemui nenek.
 “Nek... .” Panggil Ayame sambil berjalan mendekati sang nenek.
“Iya ada apa Ayame?” tanya sang Nenek sambil tersenyum.
“Nek, bisakah aku memelihara dia?” tanya Ayame sambil menunjukkan tupai itu kepada neneknya. “Aku menemukannya di hutan tadi sewaktu bermain tadi. Tadi sewaktu aku mau memetik mawar dia ada disana sendirian. Aku tak tega Nek, melihat dia sendirian apalagi diluar sepertinya mau hujan.” Kata Ayame menjelaskan.
“Boleh ya Nek, kami memeliharanya. Aku janji, aku akan membantu Ayame merawatnya.” Kata Gaby berusaha membujuk Nenek.
“Iya, Nenek ijinkan. Tapi pertama – tama letakkan dia di kandang besi dan taruh di ruang tengah.” Kata nenek. “Ini berikan kepada dia. Kamu taukan bagaimana memberinya makan?” tanya Nenek sambil memberikan buah pisang kepada Ayame.
“Sini Nek, biar Gaby bantu menyiapkan makan malam.” Kata Gaby, tapi sebelum sempat membantu Nanda sudah menghentikannya.
“Jangan. Kamu tidak usah membantu di dapur Gab. Apa kamu tau bagaimana kondisi dapur dan perut kami semua saat kamu membantu disini? Ingat, dapur sekarang sudah menjadi daerah terlarang buatmu.” Kata Nanda sambil tersenyum, Nenek yang melihat itu semua hanya tersenyum.

“Nah,Gaby kalau begitu panggil saudara – saudaramu masuk. Kita makan malam bersama.” Perintah nenek, yang dijawab dengan anggukan kepala.
Tidak butuh waktu lama buat Gaby untuk memanggil yang lain agar berkumpul di meja makan. Mereka semua bersyukur bisa menyantap makan malam yang enak tidak seperti yang dulu – dulu. Walaupun mereka semua makan dalam diam. Hal itu dikarenakan Nenek melarang mereka berbicara ketika makan. Sekarang yang terdengar hanyalah suara sendok dan piring yang berbenturan sehingga menimpulkan nada – nada merdu.
Hiks... hiks... hiks...
“Kenapa Anggi?” tanya Rio yang duduk disebelah Anggi. Semua yang ada di meja makan terkejut melihat Anggi tiba – tiba menangis.
“Tidak apa – apa Kak Rio, Anggi Cuma teringat dulu. Kalau saja dulu Nenek tidak menemukan aku, mungkin aku sudah meninggal dimakan binatang buas di dalam hutan, kalau saja dulu Nenek tidak menemukanku, aku tak tahu bagaimana nasib akan membawaku.” Kata Anggi d sela – sela tangisnya.
Melihat Anggi menangis, mereka semua yang ada di meja makan juga ikutan menangis. Mereka semua mengalami nasib yang tak jauh berbeda dengan Anggi ditemukan sendirian aatau tergeletak di dalam hutan dengan keadaan yang memprihatinkan.
“Sudah – sudah, kenapa kalian semua ikutan menangis. Jangan ingat – ingat lagi apa yang sudah kalian alami kalau itu hanya membuat kalian seperti ini. Ingat kalian harus terus hidup, untuk menggantikan hidup kedua orang tua kalian. Kalau ibarat buku, maka orang tua kalian itu adalah seri terdahulu yang ceritanya belum tamat, sekarang kalian semua ada disini untuk melanjutkan seri buku itu dan akan terus berputar seperti itu sampai tamat.” Kata nenek berusaha menenangkan mereka semua yang ada disana dengan kata – kata.
Malam semakin larut namun Abigail masih terjaga, entah apa yang mengganggu pikirannya hari ini. Kilasan – kilasan selama hidupnya terus membayanginya. Entah mengapa hari ini dia merasa ada yang tidak beres, perasaannya tidak enak dan entah mengapa dia begitu merindukan kampung halamannya. Sejak kejadian 5 tahun yang lalu dia sama sekali tidak pernah kembali ke kampung halamannya dikarenakan dia begitu sibuk membantu Nenek, selain itu juga masuk terlalu dalam ke hutan membuat rasa takut tersendiri.
Abigail masih ingat hari itu dia ikut kedua orang tuanya memetik beberapa tanaman obat yang tumbuh di dalam hutan. Orang tua Abigail adalah pedagang tanaman obat, walaupun orang tuanya adalah pedagang mereka tergolong orang kaya di desanya. Hal itu dikarenakan hanya beberapa orang saja yang berani untuk masuk kedalam hutan terlalu dalam. Bahkan di desa tempat Abigail tinggal hanya orang tuanya saja yang berprofesi sebagai penjual obat – obatan. Pagi yang cerah dan indah seketika berubah menjadi suasana yang mencekam saat tiba – tiba Abigail melihat Ayahnya ambruk, tidak lama kemudian di susul Ibunya. Tak lama setelah itu dia melihat kawanan serigala berdatangan, karena terlalu takut dua pingsan dan saat bangun dia sudah berada di rumah nenek.
“Sshh... sshh.. Abigail, Hei!” pamggil suara dari seberang tempat tidurnya. Karena dirumah itu hanya ada 2 kamar tidur, satu untuk tempat tidur Nenek dan yang satu adalah tempat tidur mereka, dan karena tidak mungkin mereka tidur di satu kasur maka kamar itu di bagi menjadi dua. Satu sisi untuk para laki – laki dan yang satunya adalah untuk para gadis.
“Ada apa Ay?” jawab Abigail sambil berbisik, mereka tidak mau mengganggu tidur yang lainnya.
“Aku lapar, mau menemaniku makan tidak? Nanti aku buatin kamu makanan juga.” Jawab Ayame sambil memegangi perutnya.
“Dasar kamu, tiap hari masuk ke dalam hutan tapi ke dapur saja tidak berani.” Kata Abigail sambil mengantar Ayame ke dapur.
Tidak membutuhkan waktu lama bagi Ayame untuk membuat makanan, dikarenakan hanya untuk dia dan Abigail saja bahan makanan di dapur tinggal sedikit.
“Ay, lusa ulang tahun Nenek kamu punya rencana untuk memberi kado buat Nenek?” Tanya Abigail saat mereka kembali ke kamar.
“Entahlah Ab, aku ingin memberi hadiah buat nenek tapi aku bingung mau memberi hadiah apa.” Kata Ayame sambil tertunduk sedih.
“Oh iya, Nenek kan suka dengan bunga mawar yang tiap hari kamu bawa pulang. Bagaimna kalau kita kasih bunga mawar aja buat nenek. Nanti kita ambil bunga mawar yang banyak biar seisi rumah penuh harum bunga mawar.” Kata Abigail penuh semangat.
“Setuju! Tapi nanti siapa yang akan membantuku mengumpulkan bunga? Kamu tau sendiri kan kalau untuk mengumpulkan bunga mawar yang banyak kita harus masuk semakin dalam ke hutan, aku bisa mencarinya tapi aku membutuhkan bantuan setidaknya satu orang buat membawanya. Kamu mau membantuku?” tanya Ayame.
“Tidak Ayame, aku masih tidak berani masuk ke dalam hutan. Bayangan saat – saat itu masih membekas di ingatanku sampai sekarang. Bagaimana kalau kamu ajak Gaby aja kalau tidak Rio mereka kan yang paling pemberani diantara kita semua.” Jawab Abigail.
“Lha yang ngusulin buat ngasih Nenek Kado bunga mawar kan kamu Ab, kalau begitu harus kamu yang menemaniku. Jangan takut, di dalam hutan tak semerikan apa yang kamu bayangin selama ini. Coba liat, apakah Kiara itu menakutkan? Dia bahkan sangat imut apalagi saat tertidur di kandangnya.” Kata  Ayame mencoba menyakinkan.
“Baiklah kalau begitu. Besok kita kumpulkan bunga mawar yang banyak.” Kata Abigail akhirnya, yang hanya dijawab dengan anggukan kepala oleh Ayame.
Malam semakin larut, namun di satu sisi di dalam rumah ini sedang tersenyum penuh misteri seakan merencanakan sesuatu. Bahkan saat – saat penantiannya selama hampir sepuluh tahun ini akan terbayar lunas. Rasa sakit yang di tahannya selama ini akan terbayarkan.
Disisi lain di beberapa desa di kerajaan Emer sedang merasakan duka, penduduk di beberapa desa itu berbondong – bondong mendatangi beberapa rumah yang mereka anggap adalah rumah pahlawan, bahkan Raja sendiri  pernah memberikan perintah khusus untuk merawat rumah itu dan melakukan penelitian disana. Entah apa yang ada dipikiran Sang Raja, bahkan akhir – akhir ini Raja Emer ke-II sendiri yang meneliti berdasarkan berkas – berkas yang ada.
Pagi hari setelah sarapan dua anak kecil itu segera melakukan aksinya, masuk ke dalam hutan untuk mencari bunga mawar.
“Bagaimana Ab, indah bukan disini?” tanya Ayame sambil memetik bunga mawar.
“Benar, disini indah. Aku sedikit menyesal karena tidak pernah mau kau ajak masuk kedalam hutan.” Jawab Abigail sambil terus membantu Ayame.
 “Hutan ini begitu indah dan terlalu sayang kalau untuk kita takuti.” Jawab Ayame sambil melihat sekitar.
“Kau aneh, kita semua takut karena trauma kejadian yang menimpa kita dulu.” Kata Abigail yang agak kesal dengan Ayame.
“Iya, aku tau. Aku juga takut, tapitak seperti kalian ingatanku tentang kejadian ini tak begitu jelas. Dulu Nenek menemukanku dalam pelukan Gaby, bahkan sewaktu menemukan kami Nenek kira hanya ada satu anak.” Kataku.
Setelah dirasa bunga yang di kumpulkan cukup banyak, kami kembali ke dalam hutan. Namun anehnya di tengah perjalanan kami, kami melihat anak – anak yang lainnya justru berlari masuk ke dalam hutan, selain kami melihat ke enam teman – teman kami ada diantaranya satu gadis kecil yang sangat cantik.
“Ayame, Abigail. Ayo kita semua harus lari kedalam hutan disini bahaya.” Kata gadis misterius itu.
Kami yang masih dalam keadaan terkejut juga langsung ditarik kedalam hutan. Cukup jauh kami berlari, sampai akhirnya kami memutuskan berhenti saat keadaan sudah aman.
“Apa yang terjadi? Kenapa kita harus berlari sampai disini?” tanya Abigail pada akhirnya.
“Biar aku jelaskan. Tadi sewaktu kalian semua sibuk menyiapkan pesta kejutan buat nenek aku tak sengaja masuk ke dalam kamar nenek. Disana aku melihat buku catatan ini dan isinya sangat mengejutkan, buku ini penuh dengan tulisan nenek bagaimana cara nenek mempelajari ilmu sihir, dan bagaimana cara nenek membunuh orang tua kalian semua.” Jawab gadis itu. “Baca ini kalau kalian masih tak percaya apa yang aku ceritakan.” Katanya sambil memberikan buku coklat yang sudah sangat usang.
“Bukannya sihir hanya mitos? Lalu untuk apa nenek melakukan itu semua?” tanya Rendi.
“Aku tahu sihir dilarang, tapi Nenek mempunyai satu tujuan penting. Orang tua kalian yang terbunuh saat itu semunya adalah penjual obat, dan waktu itu orang tua kalian sedang mendapatkan misi dari raja untuk mencari tanaman obat yang sangat langka entah untuk apa obat itu. Dan dengan sihir yang dimiliki nenek orang tua kalian semua meninggal dengan cara yang tiba – tiba dan tak lama setelah orang tua kalian meninggal serigala – serigala muncul. Aku tak tahu apa yang terjadi selengkapnya setelah itu, tempat dimana orang tua kalian terbunuh tumbuh bunga mawar putih.” Kata gadis itu menjelaskan. Keadaan menjadi hening semua, seakan larut pada pikiran masing – masing.
“Asal kalian tau, obat langka yang dicari orang tua kalian adalah obat agar bisa memiliki anak tanpa harus hamil. Namun semua itu hanya bohong obat itu tak pernah ada. Yang sesungguhnya terjadi adalah bagian – bagian tubuh tertentu yang dibutuhkan untuk memiliki anak tanpa hamil. Itu semua dilakukan agar Nenek bisa memiliki anak, dan anak yang muncul setelah ritual itu selesai adalah aku. Alasan kenapa Nenek belum membunh kalian juga adalah karena belum waktunya. Karena anak yang lahir dengan cara seperti itu punya batas hidup yang sangat singkat, selanjutnya kalian semua yang akan jadi korban berikutnya agar aku bisa mempunyai hidup yang lama. Tapi sayang, pihak kerajaan menyadari itu semua dan akhirnya menangkap nenek.untuk itu aku sendiri yang akan menyelesaikan ritual itu.” Kata Nanda sambil mengucapkan kata – kata tak jelas seperti mantra..
“Tunggu kamu siapa?” tanya Ayame melihat gadis asing itu.
“Ki...A...Ra...” jawabnya. Dan sebelum kesadaran Ayame hilang, tangannya segera menggapai Kiara, karena dia hanya kenal satu Kiara dan entah kenapa dia yakin perasaannya benar.
-0-
“Kiara, bangun nak” kata Mama. “Ayo kita makan.” Ajak Mama, aku hanya mengikutinya dari belakang.
Keesokan harinya aku pergi ke Alun – alun kota, disini aku biasa mengahabiskan hari liburku. Melihat bunga – bunga mawar yang bermekaran. Tanganku terulur memegang dengan lembut bunga mawar merah muda itu.
“Terimakasih Ayame, Terimaksih untuk segalanya.” Kataku sambil menangis.
Kenangan saat itu masih sering terlintas, mungkin kejadian itu sudah lebih dari 100 tahun. Tapi setiap kesini aku masih merasakan hangat kasih sayang dari mereka.


-SEKIAN-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar