CINTA
BUNGA MAWAR
Hari ini seperti biasa
rumah terasa sepi, hanya ada Mbok Ina yang sedang memasak menyiapkan makan
malam, sedangkan Raisa dan Pak Darmin bercengkrama di teras samping yang
letaknya tak begitu jauh dengan dapur. Aku yang melihat mereka sambil menaiki
tangga merasakan sedikit iri.
-0-
“Ah, Kamu Gaby aku kira
siapa.” Jawab gadis cantik yang dipanggil dengan Ayame tadi.
“Lanjutkan besok saja
Ayame, sekarang sudah hampir malam. Terlalu bahaya jika malam – malam kita
berada disini. Apa kamu lupa bagaimana bahayanya jika tetap disini saat sudah
malam”. Ajak Gaby, yang kemudian hanya di jawab dengan anggukan kepala saja
dari Ayame.
Ayame dan Gaby tinggal
di desa yang letaknya tak jauh dari hutan tempat Ayame biasanya menghabiskan
waktu merawat bunga – bunga liar itu. Dan tentunya cerita – cerita seram yang
berkaitan dengan hutan itu sudah diketahui Ayame dengan baik.
“Ah, Sebentar Gaby aku
melupakan sesuatu. Tunggu disini sebentar ya, aku akan kembali kesana
mengambilnya. Aku janji tak akan lama.” Kata Ayame sambil berbalik.
Gaby yang melihat
tingkah saudara kembarnya itu hanya bisa mendesah pasrah, dia tentu sudah hapal
dengan kebiasaan unik Ayame. Dan benar, tak lama dari dalam hutan Ayame muncul
dengan membawa setangkai mawar putih sambil tersenyum lebar kearah Gaby.
“Ay, apa yang ada di
pundak kamu itu?” Tanya Gaby penasaran.
“Oh.. ini aku
menemukannya di antara bunga – bunga tadi. Tapi karena tadi aku lihat dia
sendirian disana aku jadi tak tega dan mengambilnya. Apalagi sepertinya nanti
malam akan hujan badai, aku tak tega kalau meninggalkannya sendirian di tengah
hutan.” Kata Ayame sambil sesekali mengelus kepala hewan yang berada di
pundaknya itu..
“Ayame, apa yang ada di
pundakmu itu?” tanya Rio ketika mereka sampai di rumah.
“Entah;ah, Yo. Aku juga
gak tau apa namanya itu. Tadi aku menemukannya di dalam hutan.” Jawab Ayame
sambil menunjukkan hewan itu kearah Rio.
“Seperti Tupai ya.”
Kata Abigail yang sibuk mengamati hewan yang dibawa Ayame
“Nanda, apa kamu lihat
Nenek?” Tanya Gaby.
“Nenek sedang pergi ke
rumah Kepala Desa dengan Rendi tadi.” Kata Nanda sambil ikut berkerumun melihat
hewan baru yang dibawa Ayame.
“Aaaahhh!!!” teriak
salah satu dari anak – anak itu.
“Kenapa Mis?” Tanya
Abigail yang berdiri di samping anak tadi.
“Ti... tidak Ab, aku
hanya terkejut. Ayame bilang dia menemukan hewan itu di dalam hutan. Lalu
apakah kalian lupa cerita – cerita seram dari nenek tentang hutan itu? Aku
hanya berfikir, mungkinkah dia itu siluman yang menjelma menjadi tupai?” Jawab
gadis yang dipanggil Mis tadi sambil berjingkat kebelakang, dari wajahnya
terlihat jelas kalau dia sedang ketakutan.
“Ah, tidak mungkin
mungkin saja dia ini tupai jenis baru Misya.” Kata Ayame sambil mengelus kepala
tupai itu.
“Iya, tupai jenis baru
dengan bulu berwarna putih salju, ekor dua dan mata yang berbeda warna.” Kata
Rendi tiba – tiba yang muncul di belakang Ayame.
“Ren, nenek dimana?”
Tanya Gaby begitu melihat Rendi.
“Nenek di dalam
menyiapkan makan malam dengan Nana.” Jawab Rendi.
Begitu mendengar
jawaban Rendi, Gaby langsung menarik tangan adik kembarnya itu untuk menemui
nenek.
“Nek... .” Panggil Ayame sambil berjalan
mendekati sang nenek.
“Iya ada apa Ayame?”
tanya sang Nenek sambil tersenyum.
“Nek, bisakah aku
memelihara dia?” tanya Ayame sambil menunjukkan tupai itu kepada neneknya. “Aku
menemukannya di hutan tadi sewaktu bermain tadi. Tadi sewaktu aku mau memetik
mawar dia ada disana sendirian. Aku tak tega Nek, melihat dia sendirian apalagi
diluar sepertinya mau hujan.” Kata Ayame menjelaskan.
“Boleh ya Nek, kami
memeliharanya. Aku janji, aku akan membantu Ayame merawatnya.” Kata Gaby
berusaha membujuk Nenek.
“Iya, Nenek ijinkan.
Tapi pertama – tama letakkan dia di kandang besi dan taruh di ruang tengah.”
Kata nenek. “Ini berikan kepada dia. Kamu taukan bagaimana memberinya makan?”
tanya Nenek sambil memberikan buah pisang kepada Ayame.
“Sini Nek, biar Gaby
bantu menyiapkan makan malam.” Kata Gaby, tapi sebelum sempat membantu Nanda
sudah menghentikannya.
“Jangan. Kamu tidak
usah membantu di dapur Gab. Apa kamu tau bagaimana kondisi dapur dan perut kami
semua saat kamu membantu disini? Ingat, dapur sekarang sudah menjadi daerah
terlarang buatmu.” Kata Nanda sambil tersenyum, Nenek yang melihat itu semua
hanya tersenyum.
“Nah,Gaby kalau begitu panggil saudara – saudaramu masuk. Kita makan malam bersama.” Perintah nenek, yang dijawab dengan anggukan kepala.
Tidak butuh waktu lama
buat Gaby untuk memanggil yang lain agar berkumpul di meja makan. Mereka semua
bersyukur bisa menyantap makan malam yang enak tidak seperti yang dulu – dulu.
Walaupun mereka semua makan dalam diam. Hal itu dikarenakan Nenek melarang
mereka berbicara ketika makan. Sekarang yang terdengar hanyalah suara sendok
dan piring yang berbenturan sehingga menimpulkan nada – nada merdu.
Hiks... hiks... hiks...
“Kenapa Anggi?” tanya Rio
yang duduk disebelah Anggi. Semua yang ada di meja makan terkejut melihat Anggi
tiba – tiba menangis.
“Tidak apa – apa Kak
Rio, Anggi Cuma teringat dulu. Kalau saja dulu Nenek tidak menemukan aku,
mungkin aku sudah meninggal dimakan binatang buas di dalam hutan, kalau saja
dulu Nenek tidak menemukanku, aku tak tahu bagaimana nasib akan membawaku.”
Kata Anggi d sela – sela tangisnya.
Melihat Anggi menangis,
mereka semua yang ada di meja makan juga ikutan menangis. Mereka semua
mengalami nasib yang tak jauh berbeda dengan Anggi ditemukan sendirian aatau
tergeletak di dalam hutan dengan keadaan yang memprihatinkan.
“Sudah – sudah, kenapa
kalian semua ikutan menangis. Jangan ingat – ingat lagi apa yang sudah kalian
alami kalau itu hanya membuat kalian seperti ini. Ingat kalian harus terus
hidup, untuk menggantikan hidup kedua orang tua kalian. Kalau ibarat buku, maka
orang tua kalian itu adalah seri terdahulu yang ceritanya belum tamat, sekarang
kalian semua ada disini untuk melanjutkan seri buku itu dan akan terus berputar
seperti itu sampai tamat.” Kata nenek berusaha menenangkan mereka semua yang
ada disana dengan kata – kata.
Malam semakin larut
namun Abigail masih terjaga, entah apa yang mengganggu pikirannya hari ini.
Kilasan – kilasan selama hidupnya terus membayanginya. Entah mengapa hari ini
dia merasa ada yang tidak beres, perasaannya tidak enak dan entah mengapa dia
begitu merindukan kampung halamannya. Sejak kejadian 5 tahun yang lalu dia sama
sekali tidak pernah kembali ke kampung halamannya dikarenakan dia begitu sibuk
membantu Nenek, selain itu juga masuk terlalu dalam ke hutan membuat rasa takut
tersendiri.
Abigail masih ingat
hari itu dia ikut kedua orang tuanya memetik beberapa tanaman obat yang tumbuh
di dalam hutan. Orang tua Abigail adalah pedagang tanaman obat, walaupun orang
tuanya adalah pedagang mereka tergolong orang kaya di desanya. Hal itu
dikarenakan hanya beberapa orang saja yang berani untuk masuk kedalam hutan
terlalu dalam. Bahkan di desa tempat Abigail tinggal hanya orang tuanya saja
yang berprofesi sebagai penjual obat – obatan. Pagi yang cerah dan indah
seketika berubah menjadi suasana yang mencekam saat tiba – tiba Abigail melihat
Ayahnya ambruk, tidak lama kemudian di susul Ibunya. Tak lama setelah itu dia
melihat kawanan serigala berdatangan, karena terlalu takut dua pingsan dan saat
bangun dia sudah berada di rumah nenek.
“Sshh... sshh..
Abigail, Hei!” pamggil suara dari seberang tempat tidurnya. Karena dirumah itu
hanya ada 2 kamar tidur, satu untuk tempat tidur Nenek dan yang satu adalah
tempat tidur mereka, dan karena tidak mungkin mereka tidur di satu kasur maka
kamar itu di bagi menjadi dua. Satu sisi untuk para laki – laki dan yang
satunya adalah untuk para gadis.
“Ada apa Ay?” jawab
Abigail sambil berbisik, mereka tidak mau mengganggu tidur yang lainnya.
“Aku lapar, mau
menemaniku makan tidak? Nanti aku buatin kamu makanan juga.” Jawab Ayame sambil
memegangi perutnya.
“Dasar kamu, tiap hari
masuk ke dalam hutan tapi ke dapur saja tidak berani.” Kata Abigail sambil mengantar
Ayame ke dapur.
Tidak membutuhkan waktu
lama bagi Ayame untuk membuat makanan, dikarenakan hanya untuk dia dan Abigail
saja bahan makanan di dapur tinggal sedikit.
“Ay, lusa ulang tahun
Nenek kamu punya rencana untuk memberi kado buat Nenek?” Tanya Abigail saat
mereka kembali ke kamar.
“Entahlah Ab, aku ingin
memberi hadiah buat nenek tapi aku bingung mau memberi hadiah apa.” Kata Ayame
sambil tertunduk sedih.
“Oh iya, Nenek kan suka
dengan bunga mawar yang tiap hari kamu bawa pulang. Bagaimna kalau kita kasih
bunga mawar aja buat nenek. Nanti kita ambil bunga mawar yang banyak biar seisi
rumah penuh harum bunga mawar.” Kata Abigail penuh semangat.
“Setuju! Tapi nanti
siapa yang akan membantuku mengumpulkan bunga? Kamu tau sendiri kan kalau untuk
mengumpulkan bunga mawar yang banyak kita harus masuk semakin dalam ke hutan,
aku bisa mencarinya tapi aku membutuhkan bantuan setidaknya satu orang buat
membawanya. Kamu mau membantuku?” tanya Ayame.
“Tidak Ayame, aku masih
tidak berani masuk ke dalam hutan. Bayangan saat – saat itu masih membekas di
ingatanku sampai sekarang. Bagaimana kalau kamu ajak Gaby aja kalau tidak Rio
mereka kan yang paling pemberani diantara kita semua.” Jawab Abigail.
“Lha yang ngusulin buat
ngasih Nenek Kado bunga mawar kan kamu Ab, kalau begitu harus kamu yang
menemaniku. Jangan takut, di dalam hutan tak semerikan apa yang kamu bayangin
selama ini. Coba liat, apakah Kiara itu menakutkan? Dia bahkan sangat imut
apalagi saat tertidur di kandangnya.” Kata
Ayame mencoba menyakinkan.
“Baiklah kalau begitu.
Besok kita kumpulkan bunga mawar yang banyak.” Kata Abigail akhirnya, yang
hanya dijawab dengan anggukan kepala oleh Ayame.
Malam semakin larut,
namun di satu sisi di dalam rumah ini sedang tersenyum penuh misteri seakan
merencanakan sesuatu. Bahkan saat – saat penantiannya selama hampir sepuluh
tahun ini akan terbayar lunas. Rasa sakit yang di tahannya selama ini akan
terbayarkan.
Disisi lain di beberapa
desa di kerajaan Emer sedang merasakan duka, penduduk di beberapa desa itu
berbondong – bondong mendatangi beberapa rumah yang mereka anggap adalah rumah
pahlawan, bahkan Raja sendiri pernah
memberikan perintah khusus untuk merawat rumah itu dan melakukan penelitian
disana. Entah apa yang ada dipikiran Sang Raja, bahkan akhir – akhir ini Raja
Emer ke-II sendiri yang meneliti berdasarkan berkas – berkas yang ada.
Pagi hari setelah
sarapan dua anak kecil itu segera melakukan aksinya, masuk ke dalam hutan untuk
mencari bunga mawar.
“Bagaimana Ab, indah
bukan disini?” tanya Ayame sambil memetik bunga mawar.
“Benar, disini indah.
Aku sedikit menyesal karena tidak pernah mau kau ajak masuk kedalam hutan.”
Jawab Abigail sambil terus membantu Ayame.
“Hutan ini begitu indah dan terlalu sayang
kalau untuk kita takuti.” Jawab Ayame sambil melihat sekitar.
“Kau aneh, kita semua
takut karena trauma kejadian yang menimpa kita dulu.” Kata Abigail yang agak
kesal dengan Ayame.
“Iya, aku tau. Aku juga
takut, tapitak seperti kalian ingatanku tentang kejadian ini tak begitu jelas.
Dulu Nenek menemukanku dalam pelukan Gaby, bahkan sewaktu menemukan kami Nenek
kira hanya ada satu anak.” Kataku.
Setelah dirasa bunga
yang di kumpulkan cukup banyak, kami kembali ke dalam hutan. Namun anehnya di
tengah perjalanan kami, kami melihat anak – anak yang lainnya justru berlari
masuk ke dalam hutan, selain kami melihat ke enam teman – teman kami ada
diantaranya satu gadis kecil yang sangat cantik.
“Ayame, Abigail. Ayo
kita semua harus lari kedalam hutan disini bahaya.” Kata gadis misterius itu.
Kami yang masih dalam keadaan
terkejut juga langsung ditarik kedalam hutan. Cukup jauh kami berlari, sampai
akhirnya kami memutuskan berhenti saat keadaan sudah aman.
“Apa yang terjadi?
Kenapa kita harus berlari sampai disini?” tanya Abigail pada akhirnya.
“Biar aku jelaskan. Tadi
sewaktu kalian semua sibuk menyiapkan pesta kejutan buat nenek aku tak sengaja
masuk ke dalam kamar nenek. Disana aku melihat buku catatan ini dan isinya
sangat mengejutkan, buku ini penuh dengan tulisan nenek bagaimana cara nenek
mempelajari ilmu sihir, dan bagaimana cara nenek membunuh orang tua kalian
semua.” Jawab gadis itu. “Baca ini kalau kalian masih tak percaya apa yang aku
ceritakan.” Katanya sambil memberikan buku coklat yang sudah sangat usang.
“Bukannya sihir hanya
mitos? Lalu untuk apa nenek melakukan itu semua?” tanya Rendi.
“Aku tahu sihir
dilarang, tapi Nenek mempunyai satu tujuan penting. Orang tua kalian yang
terbunuh saat itu semunya adalah penjual obat, dan waktu itu orang tua kalian
sedang mendapatkan misi dari raja untuk mencari tanaman obat yang sangat langka
entah untuk apa obat itu. Dan dengan sihir yang dimiliki nenek orang tua kalian
semua meninggal dengan cara yang tiba – tiba dan tak lama setelah orang tua
kalian meninggal serigala – serigala muncul. Aku tak tahu apa yang terjadi
selengkapnya setelah itu, tempat dimana orang tua kalian terbunuh tumbuh bunga
mawar putih.” Kata gadis itu menjelaskan. Keadaan menjadi hening semua, seakan
larut pada pikiran masing – masing.
“Asal kalian tau, obat
langka yang dicari orang tua kalian adalah obat agar bisa memiliki anak tanpa
harus hamil. Namun semua itu hanya bohong obat itu tak pernah ada. Yang
sesungguhnya terjadi adalah bagian – bagian tubuh tertentu yang dibutuhkan
untuk memiliki anak tanpa hamil. Itu semua dilakukan agar Nenek bisa memiliki
anak, dan anak yang muncul setelah ritual itu selesai adalah aku. Alasan kenapa
Nenek belum membunh kalian juga adalah karena belum waktunya. Karena anak yang
lahir dengan cara seperti itu punya batas hidup yang sangat singkat,
selanjutnya kalian semua yang akan jadi korban berikutnya agar aku bisa
mempunyai hidup yang lama. Tapi sayang, pihak kerajaan menyadari itu semua dan
akhirnya menangkap nenek.untuk itu aku sendiri yang akan menyelesaikan ritual
itu.” Kata Nanda sambil mengucapkan kata – kata tak jelas seperti mantra..
“Tunggu kamu siapa?”
tanya Ayame melihat gadis asing itu.
“Ki...A...Ra...”
jawabnya. Dan sebelum kesadaran Ayame hilang, tangannya segera menggapai Kiara,
karena dia hanya kenal satu Kiara dan entah kenapa dia yakin perasaannya benar.
-0-
“Kiara, bangun nak”
kata Mama. “Ayo kita makan.” Ajak Mama, aku hanya mengikutinya dari belakang.
Keesokan harinya aku
pergi ke Alun – alun kota, disini aku biasa mengahabiskan hari liburku. Melihat
bunga – bunga mawar yang bermekaran. Tanganku terulur memegang dengan lembut
bunga mawar merah muda itu.
“Terimakasih Ayame,
Terimaksih untuk segalanya.” Kataku sambil menangis.
Kenangan saat itu masih
sering terlintas, mungkin kejadian itu sudah lebih dari 100 tahun. Tapi setiap
kesini aku masih merasakan hangat kasih sayang dari mereka.
-SEKIAN-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar