Jumat, 14 Oktober 2016

Can't Love you #Part04

Hari ini, kali kedua aku masuk sekolah dan lagi-lagi hari ini aku hampir telat. Selain karena menyelesaikan urusan pekerjaan, aku juga tadi balik lagi kerumah mengambil buku catatan. Aku berpikir jika semuanya kejadian aku catat saat malam hari mungkin akan ada yang terlewatkan, selain itu waktu istirahatku akan semakin berkurang nantinya.
“Vetta, lagi-lagi kamu telat”. Kata Elvi ketika melihatku masuk ke kelas.
“Hehehe, tadi aku kelupaan sesuatu dirumah. Makanya tadi mau gak mau balik lagi”. Kataku menjelaskan sambil berjalan ke tempat dudukku.
Lagi-lagi ketika menuju tempat dudukku, aku melihat Hadrian sudah disana dan sambil membaca buku. ‘Apa dia tidak pernah bosan ya membaca buku terus?’ tanyaku dalam hati. Aku memang dulu sempat suka membaca buku, namun itu hanya buku cerita yang mempunyai banyak gambar, tidak seperti buku pelajaran atau buku yang sering di baca oleh Hadrian dimana hanya ada tulisan di semua halamannya, bahkan gambarnya hanya terletak di sampul buku.
“Hai”. Sapaku kepadanya dan kemudian duduk di temapt dudukku.
“Baru datang?”, tanyanya ketika baru melihatku, aku hanya mengangguk mengiyakan. “Katanya rumahmu dekat, kok jam segini baru sampe sekolah?” tanyanya kemudian.
“Ehm... tadi aku ada urusan sebentar terus baru ingat kalau ada buku yang ketinggalan di rumah, akhirnya mau gak mau aku pulang buat ngambil buku itu”. Kataku pada akhirnya.
Tepat ketka aku ingin mengatakan sesuatu guru sudah datang sehingga aku harus menunda pembicaraanku nanti. namun sampai jam pelajaran kedua sudah akan berakhir tak ada satupun dari kami yang memulai pembicaraan, padahal di jam kedua guru tidak datang. Akupun juga lupa apa yang ingin aku katakan kepadanya.
“Vett, nanti ikut ke kantin?” tanya Elvi saat sebentar lagi waktu istirahat tiba.
“Hmm... baiklah, kebetulan aku juga ingin mencoba menu baru di kantin”. Kataku menyetujui ajakan dari Elvi.
“Memangnya apa yang ingin kau coba?” kali ini Christine yang bertanya.
“Hmm... entahlah, mungkin sate”. Kataku sambil mencoba mengingat-ingat apa saja menu yang ada di kantin. Namun yang ada di ingatanku hanya ada ‘sate’.
Dua orang yang ada di depanku terkejut mendengar jawabanku tadi, namun sepertinya bukan cuma Elvi dan Christine saja yang terkejut Hadrian yang ada di sampingku juga terkejut dengan apa yang aku katakan. ‘Mungkinkah aku salah bicara?’ pikirku ketika melihat reaksi tiga orang tersebut.
“Apa kau gila, Vett? Sejak kapan di kantin ada sate?” kali ini giliran Hadrian yang bertanya seperti itu.
Aku yang masih tidak mengerti seperti apa makanan yang di sebut sate hanya bisa bertanya dengan polosnya. “Memangnya makanan seperti apa sate itu?” tanyaku.
“Sebenarnya kau berasal dari belahan bumi bagian mana Vett sampai tidak tahu makanan yang di sebut sate, padahal makanan itu sudah terkenal sampai di luar negeri”. Kali ini Hadrian yang mengomentari pertanyaanku.
Aku hanya bengong mendengar kata-kata dari Hadrian, memangnya seperti apa makanan yang di sebut sate itu.
“Berhenti bercanda Vett, semua orang tau apa itu sate. Bahkan adikku yang masih kelas 2 Sekolah Dasar saja sudah tau apa itu sate”. Kata Christine menimpali. Aku semakin penasaran seperti apa sate itu. Namun sepertinya akan semakin konyol kalau aku bersikap tidak tahu apa yang di namakan sate itu.
“Tumben kamu banyak bicara Had”. Kata Elvi yang dari tadi lebih banyak diam.
“Ah, biasa aja”. Kata Hadrian singkat sambil kembali melanjutkan membaca buku.
“Iya benar Vi, dengan Vetta Hadrian tak lagi pelit suara”. Kata Christine sambil tersenyum, aku yang tak mengerti maksud dari perkataannya hanya diam saja. Namun sempat ku lihat Hadrian beberapa kali salah tingkah setelah mendengar perkataan temannya itu.
“Hai, ke kantin gak?” tanya Farica yang menghampiri meja kami.
“Iya dong, kalian ikut gak?” tanya Elvi sambil menolah ke arahku dan Hadrian.
“Ikut”. Kataku sambil memasukkan buku-bukuku yang berserakan di atas meja. “Kamu ikut gak Had?” tanyaku kepada Hadrian.
“Gak usah makasih”. Jawab Hadrian sambil tetap membaca buku.
“Ya udah. Duluan ya”. Kataku sambil berlalu bersama teman-teman pergi ke kantin.
“Kamu gak salah Vett ngajak Hadrian ke kantin?” tanya Farica saat kami berjalan ke kantin.
“Memangnya kenapa?” tanyaku balik. ‘Bukankah Hadrian itu juga manusia yang bisa merasakan lapar dan haus’ pikirku.
“Kalau Hadrian ikut ke kantin itu momen langka Vett, bahkan aku berani bertaruh kalau sampai Hadrian mau ikut makan di kantin bersamamu aku akan mentraktirmu makan di kantin selama satu minggu”. Kata Citra yang berjalan di depanku dan Farica.
“Lagi pula kalo Hadrian ikut ke kantin bisa-bisa suasana bakalan hening kayak kuburan”. Kali ini Margareth yang berbicara.
Pembicaraan kami terhenti ketika kami memasuki kantin,  pandanganku jatuh pada beraneka kue yang ada di rak. Karena siang ini aku malas untuk makan nasi akhirnya aku putuskan untuk memesan blackforest dan cokelat panas, aku penasaran bagaimana rasanya samakah dengan yang ada di Spica atau bebeda.
“Vett, kamu jadi ikut eskul astronomi?” tanya Margareth sambil menyantap bakso.
“Iya jadi”. Kataku sambil memakan kue yang aku pesan.
“Terus kepalamu bagaimana, Vett?” tanya Elvi.
Aku reflek memegang kepala bagian belakang. “Gak, gak apa-apa kok Vi. Sudah gak terasa sakit lagi”. Kataku sambil tersenyum.
“Oh iya, kemarin kamu pingsan ya di lapangan basket?” tanya Farica, aku hanya mengangguk malu mendengar pertanyaannya.
“Bagaimana ceritanya Vett?” tanyanya selanjutnya.
“Entahlah Ca, aku gak begitu ingat. Seingatku aku sedang berjalan kembali ke kelas melewati lapangan basket terus tiba-tiba kepalaku kena lemparan bola... terus... aku tiba-tiba sudah ada di uks dan ada Elvi di sampingku”. Kataku sambil mengingat-ingat kejadian kemarin.
Pembicaraan kami berlanjut sampai jam istirahat berakhir, walaupun aku lebih banyak mendengar pembicaraan mereka dari pada ikut bergabung dalam obrolan. Namun di hari kedua aku bersekolah disini aku merasa kalau penilaianku kemarin tentang Farica dan Citra itu salah, ternyata mereka tak seburuk pemikiranku. Melihat sifat mereka yang seperti itu, aku yakin kalau aku bisa bersahabat baik dengan mereka berlima. Hadrian, mengingatnya aku jadi kembali tak yakin bisa dekat dengannya jangankan untuk dekat berteman dan bisa bercanda selayaknya aku dengan Elvi atau Christine rasanya tak mungkin.
“Oh iya, besok malam jangan lupa datang ya”. Katanya ketika kami semua sedang siap-siap untuk pulang.
“Besok malam ada acara apa emangnya?”, tanyaku masih tak mengerti.
“Kegiatan eskul, kemarin katanya mau gabung ke eskul. Niat gak sih?” tanyanyakemudian.
“Ah itu, aku hampir lupa. Niat-niat kok. Besok jam 7 malam kan?” kataku akhirnya, dia hanya mengangguk saja.
Tanpa memperdulikan jawabannya akupun akhirnya pergi menuju tempat kerjaku ini. Aku bersyukur Bibi pemilik taman itu tadi bersedia memperkerjakanku padahal aku belum mempunyai sesuatu yang mereka sebut sebagai ijazah SMA, dan karena statusku sebagai pelajar. Disana aku akan mendapatkan gaji Rp 500.000,- dan baru mendapatkan bonus ketika aku bisa berhasil menjual bunga, juga ketika aku mendapatkan panggilan menghias taman. Aku tak tahu apa uang segitu disini termasuk besar atau kecil, karena ketika di Spica kami tidak pernah kekurangan uang.
“Nak Vetta kok belum pulang? toko sudah tutup dari tadi.” tanya bibi yang punya toko bunga tempatku bekerja.
“Ah iya Bi, nanggung ini masih ada pesanan buat merangkai bunga. Niatnya mau Vetta selesain malam ini kalau boleh”. Kataku sambil memperlihatkan rangkaian bunga yang baru 50% selesai.
“Oh gak apa-apa kalau mau kamu seperti itu. Nanti kalau sudah kamu kunci semua pintunya aja sama matiin lampunya. Ini kuncinya, takutnya nanti kalau Bibi sudah ketiduran nunggu kamu”. Kata Bibi sambil memberikan kunci toko itu kepadaku.
“Ah iya, Bi... makasih ya”. Kataku akhirnya.
Dan jadilah aku malam ini lembur membuat rangkaian bunga. Aku tertantang untuk menyelesaikan rangkaian bunga, karena dari sana aku bisa dapat bonus yang lumayan. Menyelesaikan rangkaian akan dapat bonus Rp 10.000,-  per rangkaian.
“Akhirnya selesai juga”. Kataku sendiri sambil melihat beberapa rangkaian yang sudah ku selesaikan. “Lumayan ada 10 rangkaian, berarti aku dapat bonus banyak besok”. Kataku kemudian. Setelah membereskan meja tempatku merangkai, akhirnya aku pulang kerumah.
Malam hari di bumi sangat sepi, berbeda dengan di Spica. Bahkan disini banyak rumah-rumah yang sudah mematikan lampunya. Bahkan bisa ku lihat kalau hanya aku satu-satunya perempuan yang berjalan-jalan di jam segini.
“Hi Vett, mau kemana keluar jam segini?” tanya Hadrian saat melihatku.
“Ah, ini aku habis beli nasi goreng”. Kataku sambil menunjukkan bungkusan kepada Hadrian.
“Ayo aku anter pulang, gak baik cewek pulang sendirian di jam segini”. Katanya menawari. Aku hanya mengangguk mendengar tawaran darinya, karena jujur badanku sudah pegel semua.
“Disini jam segini masih sepi, ya?” tanyaku kepada Hadrian yang berjalan di sampingku.
“Memang, apa kamu lupa ini sudah jam berapa Vett?” tanyanya sambil melihat kearahku.
Aku hanya tersenyum mendengar pertanyaannya. “Oh iya, kamu habis darimana?” tanyaku sambil melihat kearahnya. Berjalan bersama dengannya membuatku sadar bahwa sebenarnya Hadrian itu sangat tinggi, bahkan tinggiku hanya sampai se dadanya.
“Aku mencari abang jualan sate”. Katanya sambil tersenyum melirikku. “Namun sayang orangnya gak jualan”. Katanya sambil tersenyum ketika melihat ekspresiku.
“Ah kau. Gara-gara kamu aku jadi ingat kalau aku ingin beli sate tapi gara-gara keasikan kerja aku jadi lupa”. Kataku sambil mengomel.
“Kamu kerja dimana emangnya?” tanya Hadrian terkejut mendengar perkataanku.
“Di toko bunga Florentika. Itu yang letaknya dekat sekolahan”. Kataku sambil menunjuk ke belakang.
“Ya udah, besok pas eskul jangan makan dulu ya... nanti aku traktir sate”. Katanya kemudian.
“Yang bener nih?” tanyaku penasaran.
“Iya”. Katanya mengangguk. Aku hanya tersenyum senang mendengar janjinya, sambil berharap kalau Hadrian tidak akan mengingkari janjinya.
“Tenang saja aku tak akan bohong”. Katanya yang seolah mengerti isi pikiranku.
“Lho kamu tinggal disini?” tanyanya ketika kami sampai di depan rumah.
“Iya, aku baru pindah kesini”. Kataku menjelaskan.
“Ow, pantesan aku gak pernah lihat. Rumahku lumayan dekat dari sini”. Katanya memberitahuku, aku hanya mengangguk mendengar jawabannya.
 “Aku kira kamu tinggal di kos-kosan”. Katanya selanjutnya sambil melihat kearah rumahku.
Aku hanya tersenyum mendengar perkataannya. “Hehehe... aku disuruh menempati rumah ini sama Mummy dan Puppy”. Kataku sambil mencoba mencari alasan.
“Mummy, Puppy? Ahh... panggilan untuk kedua orang tuamu ya?” tanyanya sambil tesenyum, akupun segera mengangguk.
“Oh iya, rahasiakan kalau aku bekerja dari yang lain ya? Soalnya aku dengar anak SMA tidak boleh bekerja”. Kataku sambil memelas.

“Tenang saja, aku gak ember kok”. Katanya sambil berlalu pergi. Akupun segera berlari masuk ke dalam rumah.

Minggu, 09 Oktober 2016

Can't Love You #Part03

‘Duk’
Tiba-tiba aku merasakan kepalaku kena lemparan sesuatu saat aku kembali dari ruang guru untuk menyerahkan formulir, kemudian perlahan-lahan kesadaranku semakin hilang saat kepalaku tepat membentur lapangan.
“Ah... syukur kamu sudah sadar. Ini tas kamu”. Kata Elvi sambil meletakkan tas diatas kursi.
“Elvi, apa tadi aku pingsan?” tanyaku kemudian. Ini kali pertama selama aku hidup bisa pingsan.
“Iya, tadi kamu pingsan kena lemparan bola basket. Tadi juga mereka yang membawamu kesini”. Kata Elvi menjelaskan.
“Terus yang membawaku kesini siapa?” tanyaku sambil memegangi kepalaku yang masih pusing.

Sabtu, 08 Oktober 2016

Can't Love You #Part02

Pendaratan kami di bumi terjadi sekitar tiga hari yang lalu, dan benar saja beberapa penduduk bumi mulai heboh memberitakan soal benda asing yang mendarat di bumi. Dalam hati aku sempat bertanya, kenapa peradaban di bumi masih jauh tertinggal jika dibandingkan dengan kami? Padahal jika dipikir lagi, bumi tempat manusaia tinggal itu wilayahnya luas dan sangat indah. Entahlah apa yang membuat peradaban di bumi menjadi tertinggal.

Can't Love You #Part01



#Part01

Matahari sudah mulai terlihat dari ujung timur, itu tandanya sudah waktunya untukku pulang kerumah setelah menghabiskan malam hari yang begitu indahnya di taman kota. Ya, kehidupan di tempat ini dimulai hanya saat malam hari atau saat matahari tak terlihat. Hal itu dikarenakan panas dari sinar matahari mampu membakar dan menjadikan kami arang dalam waktu sekejab. Itu semua bukan mitos atau cerita belaka karena pernah terjadi sekitar 200 tahun yang lalu.

Kamis, 08 September 2016

CINTA BUNGA MAWAR

Hari ini seperti biasa rumah terasa sepi, hanya ada Mbok Ina yang sedang memasak menyiapkan makan malam, sedangkan Raisa dan Pak Darmin bercengkrama di teras samping yang letaknya tak begitu jauh dengan dapur. Aku yang melihat mereka sambil menaiki tangga merasakan sedikit iri.
-0-